MENGAPA BUKAN AKU??

Cerita “Jack The Giant Killer”, sebuah dongeng tentang Jack yang bisa membunuh raksasa. Bisa membunuh raksasa adalah sebuah kepahlawanan. Jack, manusia biasa tetapi bisa membunuh raksasa. Apa rahasianya? Rahasianya ada pada mantelnya. Jack memakai mantel yang membuatnya tidak terlihat. Karena tidak terlihat maka tidak dapat diserang. Manusia cenderung ingin dilihat, marah jika diabaikan, kecewa Ketika pendapat tidak diterima, melontarkan sindiran-sindiran saat orang lain tidak mendengarkan. Maka manusia akan mencari cara agar dilihat, diperhatikan, didengar orang lain. Tapi berefleksi dari Jack, semakin ingin terlihat atau tampil atau dominan maka semakin besar ancaman untuk diserang orang lain. Sebaliknya semakin tidak terlihat makin orang sulit untuk menyerang kita. Misalnya jika kerendahan hati dan tidak berambisi untuk memenangkan kepentingan diri sendiri maka orang akan sulit untuk menjudge atau menilai negatif tentang kita atau tentang hal yang kita kerjakan.

Yohanes Pembaptis adalah seorang utusan. Ia datang untuk memberi kesaksian tentang terang yang akan datang. Ia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Terang itu. Sebuah bentuk pengosongan diri dan penyangkalan diri yang luar biasa. Yohanes Pembaptis menyadari bahwa apa yang dilakukannya bukan untuk dirinya sendiri. Segala pengorbanan dan kerendahan hati yang ditunjukkan semata-mata untuk datangnya Sang Terang itu. Mudah bagi Yohanes Pembaptis untuk bermegah atas segala hal yang dikerjakannya. Sangat mudah bagi Yohanes Pembaptis untuk berkata “mengapa bukan aku?” yang mendapatkan kemuliaan dan pengakuan itu? Tetapi hal itu tidak ia lakukan.

Memenangkan atau mengutamakan kepentingan orang lain bukan perkara mudah. Kita harus memakai mantel tak terlihat yaitu pengosongan dan penyangkalan diri. Bahwa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan. Keberhasilan, pujian dan penghargaan yang diterima semuanya itu bukan untuk kita tetapi semata-mata untuk Tuhan. Disaat yang sama ketika kekecewaan dan kegagalan yang datang, kesadaran untuk tidak menyalahkan orang lain dan Tuhan akan membawa semangat untuk memperbaiki diri. Mari memeriksa diri, masihkah ada dalam hati kita pikiran “mengapa bukan aku, ya Tuhan yang mendapatkan pengakuan dan penghargaan itu?”.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus