MENCARI YANG TERHILANG

Konon, seorang penjahat besar akan segera menerima hukuman mati. Ia sepertinya tidak kenal rasa takut, tidak juga ada penyesalan atas segala kejahatan yang pernah dibuatnya. Namun ketika seorang hamba Tuhan selesai mendoakannya dan berkata, bahwa Tuhan begitu mengasihinya, penjahat itu berkata, “Saya menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Sebab sayalah yang paling jahat di penjara ini, tetapi Tuhan begitu mengasihiku. Saya ingin bertobat sebelum ajalku menjemput.”

Jika seekor domba bisa bicara mungkin ia akan berkata, bahwa dia sangat bahagia karena gembala saya mengasihi saya. Saya dipandang begitu berharga, sehingga gembala berkenan meninggalkan domba-domba lain untuk mencari saya. Kalimat yang sama mungkin akan terucap dari mulut sekeping dirham yang terhilang dan didapat kembali dari timbunan debu yang telah mengotorinya.

Tuhan mencari siapapun untuk diselamatkan-Nya, tanpa pilih-pilih! Dan kebahagiaan setelah ditemukan tentu akan sangat dirasakan bagi mereka yang membutuhkan Tuhan (Bandingkan kalimat Tuhan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”) Jadi kita bisa memahami protes orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terhadap Tuhan yang mau menerima dan makan bersama orang-orang berdosa. Sebab orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu tidak membutuhkan tabib. Ia hanya butuh untuk berdebat dengan Yesus.

Tidak sekedar yang butuh Tuhan yang merasa bahagia setelah ditemukan dan diselamatkan-Nya, tetapi juga yang memiliki kerendahan hati dan mau menyambut uluran tangan dari Tuhan. Orang yang demikian akan tahu apa arti bertobat, yakni mengikuti harapan Tuhan dan hidup baru. Lihatlah Paulus yang tidak malu mengakui dirinya sebagai orang yang paling berdosa, dan Daud yang begitu menyesali atas dosa-dosanya yang begitu besar.

Tuhan mencari orang-orang seperti Paulus dan Daud, sebab mereka menyadari kebutuhannya untuk dijamah Tuhan. Dan seperti merekalah yang akan terus berproses menjalani hidup baru yang telah Tuhan anugerahkan kepada mereka.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto