MEMULIAKAN ALLAH SANG PENCIPTA DAN PEMELIHARA

Saudara tahu kisah Frankenstein? Ya, Frankenstein merupakan salah satu novel klasik yang ceritanya mendunia. Berkisah tentang seorang ilmuwan yang mempunyai ide gila untuk menciptakan seorang manusia sempurna dari potongan-potongan jasad yang disatukan dan kemudian diberi aliran listrik.

Alih-alih menjadi ciptaan yang sempurna sesuai yang ia inginkan, sosok yang diciptakan oleh ilmuwan itu justru tampak seperti monster yang menakutkan. Sang ilmuwan pun akhirnya memutuskan untuk membuang sosok itu dan menganggapnya sebagai ciptaan yang gagal. Sosok yang sudah terlanjur hidup itu pun akhirnya menjadi makhluk yang begitu menyedihkan, kesepian, dan senantiasa bertanya tentang jati dirinya.

Tidak ada yang mampu mencipta sebagaimana Allah mencipta. Tidak hanya itu. Ia yang mencipta segala sesuatu, adalah Ia yang juga tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya itu. Allah selalu memelihara, menjaga, dan memperbarui apa yang telah diciptakan-Nya. Providentia Dei. Demikianlah kita mengumandangkan keyakinan ini hampir di setiap kali ibadah kita dimulai, yaitu dengan kalimat Votum: “Pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi, yang kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya dan tidak pernah meninggalan perbuatan tangan-Nya.”

Pemazmur mengatakan, “Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala” (Mzm 25:6) Dunia dan segala isinya, adalah bukti dari kasih setia Tuhan yang agung dan mulia. Kita dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui bunga, kita dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui gunung-gunung, kita dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui samudera raya. Pertanyaannya, apakah sebagai bagian dari ciptaan, kita pun menunjukkan kualitas hidup yang juga memancarkan kemuliaan Tuhan Sang Pencipta? Atau jangan-jangan, dibanding ciptaan yang lain, kita justru menjadi pihak yang seringkali menodai kemuliaan Tuhan itu?

Semoga di masa-masa Pra-Paskah yang sedang kita hayati bersama, kita semakin menghayati kasih setia-Nya yang tidak berkesudahan. Kasih-Nya yang bahkan rela merengkuh keberdosaan kita melalui pemberian diri Sang Anak. Semoga cinta Kristus merasuk dalam hati kita. Dan olehnya, bersama dengan seluruh ciptaan yang lain, kita hidup memuliakan Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara semesta.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez