MEMELIHARA KESATUAN KELUARGA

“Suami gue itu orangnya lamban, sedangkan gue itu cenderung cepat…” Demikianlah saya menerima keluh kesah seorang sahabat tentang pasangannya. Ya, sejak berpacaran sampai akhirnya menikah dan memiliki anak, perbedaan itulah yang kerap menjadi bumbu-bumbu dalam rumah tangga mereka. Ada kalanya perbedaan kepribadian tersebut dilalui tanpa gesekan yang berarti. Namun, ada kalanya juga perbedaan itu membuat masing-masing merasa begitu tertekan. Frustrasi muncul dalam hati, “Mengapa ia tidak berlaku seperti yang saya inginkan?”

Memelihara kesatuan keluarga memang bukanlah perkara mudah. Pernikahan dijalani oleh dua pribadi yang memiliki begitu banyak perbedaan: berbeda latar belakang keluarga serta pola asuh, berbeda karakter, berbeda kebiasaan, berbeda pengalaman akan apresiasi dan luka. Namun, yang menarik, di dalam perbedaan-perbedaan itulah, Tuhan menyatukan seorang laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan! Dalam Injil Markus 10:6-8, Tuhan Yesus berkata, “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan di dalam pernikahan serta keluarga menandakan adanya upaya dari masing-masing pihak untuk tidak berhenti belajar saling mengenal dan saling memahami satu sama lain. Sesungguhnya, tidak ada kata selesai dalam mewujudkan kesatuan di tengah keluarga. Situasi hidup serta keadaan manusia merupakan hal yang dinamis, maka pilihan yang kita ambil untuk merespons anggota keluarga kita setiap harinya menjadi amat penting. Memelihara kesatuan keluarga dilakukan bukan dengan jalan membuat segala sesuatu menjadi sama dan seragam. Sebaliknya, memelihara kesatuan di tengah keluarga berarti bersedia merayakan perbedaan yang ada dalam semangat saling menghargai serta upaya untuk terus menyesuaikan diri satu sama lain. Pada akhirnya, kita percaya, bahwa kesatuan di tengah keluarga bukanlah hasil dari upaya dan kerja keras kita semata, melainkan wujud dari penyertaan Tuhan serta buah dari kesediaan para anggota keluarga untuk membiarkan hidup rumah tangga mereka dipimpin oleh Allah.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez