MELEPAS KEMELEKATAN

Menurut Saudara-saudari, apa yang paling berharga di dalam dunia? Tentu, jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi sangat luas dan bermacam-macam. Ada yang mungkin mengatakan bahwa keluarga adalah hal yang paling penting. Ada pula yang mengatakan bahwa materi dan kekuasaan adalah sesuatu yang akan membuat manusia menjadi sangat bahagia. Ada pula, yang menganggap bahwa kesehatan diri dan keluarga adalah sesuatu yang sangat didamba-dambakan di dalam hidup sehari-hari.

Tentu, jawaban-jawaban tersebut tidak ada yang salah. Wajar saja jika manusia melihat hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang paling berharga. Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah ketika kita mendefinisikan kebahagiaan hanya jika bisa memiliki itu semua. Ketika kita sudah memiliki hal-hal tersebut dalam waktu yang sudah sangat lama, maka semakin sulit bagi kita untuk melepaskannya, bahkan menggunakan segala cara untuk mempertahankannya. Inilah yang seringkali disebut sebagai kemelekatan.

Namun, kita bisa menyaksikan seorang tokoh yang bernama Abram (yang nanti dikenal sebagai Abraham) berhasil untuk melepaskannya. Di usianya yang sudah lanjut, Tuhan memerintahkan Abram untuk meninggalkan tanah kelahiran dan sanak saudaranya di Haran menuju negeri yang akan ditunjukkan Tuhan. Walaupun Tuhan menjanjikan banyak berkat kepada Abram dalam kepindahannya ke tempat yang baru, tentu saja perintah Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah.

Abram sudah menghabiskan puluhan tahun dari hidupnya berdiam di daerah tempat tinggalnya. Tempat yang mungkin menyimpan banyak kenangan dan cerita. Tempat di mana Abram merasa nyaman dan aman. Tetapi, tiba-tiba Allah mencabutnya dan menempatkan dia ke tempat yang baru nan asing. Artinya, Abram harus belajar lagi dari awal, beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang baru dan orang-orang yang baru juga. Apalagi, usia Abram yang sudah tua membuatnya tidak lagi segesit atau seluwes dahulu.

Logikanya, Abram bisa saja protes dan menolak kepada Tuhan. “Mengapa saya harus pindah? Buang-buang tenaga dan waktu saja. Lebih baik yang lain sajalah, aku sudah nyaman di tempat ini.” Namun, justru di titik itulah kita melihat kedalaman iman Abram. Kejadian 12:1-4 mencatat respons Abram: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.”

Kemelekatan sering membuat kita merasa aman, padahal belum tentu itu adalah tempat terbaik menurut kehendak Tuhan. Kita bisa melekat pada kenyamanan pekerjaan, relasi, reputasi, bahkan pada gambaran diri yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Kita takut kehilangan kendali. Kita takut memulai dari nol. Kita takut menjadi “asing.” Namun, iman selalu mengandung unsur bergerak. Iman bukan hanya percaya di dalam hati, tetapi melangkah dengan kaki.

Menariknya, Abram belum tahu ke mana ia akan pergi. Allah hanya mengatakan “ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Namun, Abram bergerak dan pergi meninggalkan tempat yang sudah ia diami selama ini. Ia percaya kepada Tuhan dan segala janji-janji-Nya. Ia yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada dirinya dan keluarganya. Di sinilah inti pelepasan kemelekatan itu. Abram tidak lagi bergantung pada kepastian tempat, tetapi pada kepastian Pribadi yang memanggilnya.

Dalam konteks kita sekarang ini, tentu bukan berarti kita harus meninggalkan kehidupan yang sudah kita bangun selama ini. Namun, kisah Abram mengajarkan kepada untuk memiliki keberanian untuk melepas kemelekatan-kemelekatan yang ada di dalam hidup kita. Bahwa kebahagiaan absolut dalam kehidupan bukan ditentukan dari apa yang kita sudah raih atau miliki, tetapi dari sebuah iman bahwa dalam segala keadaan, baik susah maupun senang, sakit atau sehat, tangis maupun tawa, Tuhan sajalah yang akan menjaga dan menggenggam tangan kita.

Kita dijadikan oleh-Nya untuk menjadi berani menghadapi segala tantangan kehidupan, karena tahu Tuhanlah yang sedang berjalan bersama, dan tidak pernah meninggalkan. Oleh karena itu, mari kita jangan lekatkan diri kita pada yang sementara, namun lebih dari itu; kita bisa percaya kepada Tuhan, Sang Empunya pemilik kehidupan manusia. Amin

 

Oleh : Pdt. Zeta Dahana


No Replies to "MELEPAS KEMELEKATAN"


    Got something to say?

    Some html is OK