MELAMPAUI KEMULIAAN
Ada sesuatu yang begitu kontras sekaligus menggugah dalam kisah awal penderitaan Yesus. Ia yang beberapa hari sebelumnya disambut dengan sorak-sorai, dielu-elukan, dan dimuliakan, kini justru direndahkan, dihina, bahkan diolok-olok oleh orang-orang yang sama ketika Ia ditangkap oleh para penguasa. Peristiwa ini terasa begitu unik, namun pada saat yang sama sangat dekat dengan realitas kehidupan manusia—di mana pujian dan penolakan dapat datang silih berganti dalam waktu yang begitu singkat.
Tentu, peristiwa yang dialami oleh Yesus ini bukan karena akibat kesalahan-Nya, tetapi satu hal yang bisa kita pelajari: kehidupan dapat berubah dengan begitu cepat. Sebagai manusia, kita sangat senang ketika kita sedang di ‘atas’. Segala kenyamanan, pujian, sanjungan, dan kemuliaan seolah berada dalam genggaman. Maka, tidak mengherankan jika kita berusaha keras untuk mempertahankan kemuliaan tersebut. Tetapi, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak menggantungkan diri, atau bahkan mendefinisikan makna hidup seluruhnya dari seberapa besar kemuliaan duniawi yang diraih, melainkan pada kesetiaan kepada Tuhan dan resiliensi manusia dalam segala keadaan kehidupan, bahkan dalam situasi yang paling berat sekalipun.
Dalam perjalanan menuju salib, Yesus tidak berusaha mempertahankan kemuliaan duniawi yang pernah Ia terima. Ia tidak melawan hinaan dengan pembelaan diri, juga tidak membalas ejekan dengan kuasa yang sebenarnya Ia miliki. Sebaliknya, Ia memilih jalan ketaatan—sebuah jalan yang sunyi, penuh penderitaan, namun justru menggenapi rencana Allah yang lebih besar. Di sinilah kita melihat bahwa kemuliaan sejati bukanlah apa yang tampak di mata manusia dan dunia, melainkan kesetiaan yang tetap teguh di hadapan Allah.
Sering kali, kita mengukur keberhasilan hidup dari seberapa tinggi kita dihargai, diakui, atau dipuji oleh sesama. Sebab, dalam momen-momen itulah kita merasa divalidasi atas segala usaha yang telah kita lakukan. Bahkan, banyak orang yang mendasarkan kebahagiaan kehidupan dari hal-hal tersebut. Namun, kisah ini mengundang kita untuk merenung: apakah kita bisa untuk tetap setia ketika penghargaan itu hilang? Apakah iman kita tetap berdiri ketika kenyamanan digantikan oleh kesulitan, bahkan penderitaan yang rasanya datang bertubi-tubi?
Melampaui kemuliaan berarti berani berjalan bersama Tuhan, bukan hanya saat terang kenyamanan dan kesukaan menyinari hidup kita, tetapi juga ketika kegelapan seolah menelan segalanya. Marilah kita belajar bahwa pada akhirnya, kemuliaan manusia bukanlah sesuatu yang kekal. Kita tidak bisa mempertahankan segala hal di dalam kehidupan sebab banyak hal yang juga di luar kuasa dan kekuatan manusia. Namun, yang bisa kita perjuangkan adalah memelihara dan menjaga relasi kita dengan Tuhan yang memberi arti sejati bagi setiap musim kehidupan. Sehingga, ketika kita berada di dalam lembah kekelaman yang paling kegelapan sekalipun, kita tidak takut bahaya. Kita mengimani, bahwa Tuhan selalu beserta dengan kita, dan tidak pernah meninggalkan. Amin.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana

Got something to say?