MAKNA PENGURAPAN YESUS

Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati manusia, siapa yang tahu? Sebuah istilah yang sangat populer bagi kita. Apa yang terjadi dalam hati seorang manusia, memang bisa menjadi sesuatu yang sangat misterius. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Belum tentu perbuatan yang tampak baik, didasari oleh motivasi yang baik pula. Ada banyak orang, melakukan sesuatu yang baik karena maksud tertentu, karena kepentingan-kepentingan tertentu bagi dirinya sendiri. Kalau tidak ada kepentingan itu, mungkin yang baik itu juga tidak dilakukan. Konon, ada udang di balik bakwan!

Enam hari menjelang perayaan Paskah. Yesus berada kembali di Betania tempat Ia membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari mati. Peristiwa pembangkitan Lazarus yang telah terjadi sebelumnya, ternyata telah meningkatkan intensitas konflik di tengah para pemuka agama Yahudi. Mereka bahkan sampai pada suatu kesepakatan untuk membunuh Yesus. Tuhan Yesus pun menyadari, bahwa saat-saat penderitaan dan saat-saat kematian-Nya sudah semakin dekat. Tuhan Yesus tahu, bahwa pelayanan-Nya selama ini akan membuat-Nya diseret dalam hukum yang tidak adil, dalam kebencian yang merajalela.

Dalam ketegangan itu, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi. Di tengah-tengah perjamuan yang sedang dilakukan, Maria mengambil setengah kati minyak narwastu yang mahal harganya. Minyak itu menurut perkiraan Yudas dapat dijual seharga tiga ratus dinar, setara dengan upah buruh selama setahun. Jumlah yang tergolong banyak! Namun hari itu, Maria memilih untuk menuangkan minyak itu tepat di kaki Yesus. Ia lalu menguraikan rambutnya yang panjang dan menyeka kaki Yesus itu dengan mahkotanya. Apa yang dilakukan Maria ini sangat tidak biasa, bahkan tergolong tabu! Seorang perempuan Yahudi tidak akan pernah menguraikan rambut di depan orang, kecuali di hadapan suaminya sendiri. Kita bisa membayangkan orang-orang melihat Maria melakukan tindakannya tersebut dengan kening yang berkerut dan pikiran penuh tanda tanya.

Tindakan Maria ini tentu bukanlah sebuah tindakan yang tanpa alasan atau hanya sekedar mencari sensasi. Sebaliknya, pengalaman perjumpaan dengan Yesus selama ini, telah menimbulkan luapan cinta kasih yang begitu besar dalam hati dan pikiran Maria. Maria telah tersentuh oleh setiap firman yang Tuhan Yesus ucapkan. Maria juga telah mengalami sendiri kuasa Tuhan Yesus dalam peristiwa kebangkitan saudaranya, Lazarus. Hati Maria meluap dengan ungkapan syukur dan terima kasih. Tidak hanya itu, hati Maria pun peka bahwa Tuhan Yesus semakin berada dalam ancaman dan bahaya karena peristiwa Lazarus. Ia sadar bahwa Sang Guru telah berkurban bagi kepentingan keluarganya, bagi kasih-Nya kepada mereka semua. Keharuan hati Maria, mendorongnya melakukan sebuah tindakan yang memang di luar kebiasaan, tetapi sangat otentik dan penuh dengan cinta.

Dari Maria, kita belajar bahwa setiap hal yang kita lakukan di hadapan Tuhan, seharusnya bersumber dari pengalaman perjumpaan dan cinta kita kepada-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik yang besar maupun yang kecil, seharusnya bersumber dari pengalaman kita dicintai lebih dulu oleh Allah dalam Kristus Yesus; dan kita ingin mengungkapkan syukur kita melalui apa yang kita lakukan. Tanpa kesadaran itu, tanpa cinta itu, maka berbagai hal bisa menjadi selubung bagi pementingan diri sendiri. Itulah yang tampaknya terjadi dalam diri Yudas Iskariot. Ia bereaksi keras dan menganggap tindakan Maria sebagai pemborosan! Namun, penulis Injil Yohanes mengungkap motivasi sebenarnya dari seorang Yudas: ia bukan peduli kepada si miskin. Yudas mengatakan semuanya itu karena dia adalah seorang pencuri yang sering mengambil uang dari kas yang dipegangnya.

Sekarang, marilah kita menilik hati kita masing-masing. Apakah selama ini kita menyadari betapa besar cinta dan pengurbanan Allah bagi diri kita? Apakah hati kita meluap dengan syukur sehingga apapun yang kita lakukan di tengah keseharian kita, kita melakukannya dengan sebaik mungkin sebagai tanda cinta kita kepada Tuhan? Marilah kita menghayatinya di Minggu Pra Paskah yang kelima ini.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez