Makanan dan Minuman Sejati

Tahun ini, bangsa Indonesia merayakan 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Apa betul kita sudah merdeka? Ada banyak jawaban dari pertanyaan ini. Mungkin ada yang menjawab: sudah merdeka dari penjajah, karena kita sudah menjadi negara sendiri, karena ada lagunya “17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita”. Tapi mungkin juga ada yang menjawab: belum, karena masih banyak yang tidak sejahtera, belum merdeka karena kita dijajah oleh bangsa sendiri, secara hukum ya tapi kenyataannya tidak dan sebagainya. Apapun jawabannya yang jelas selama 76 tahun, setiap tahun kita memperingati hari kemerdekaan bangsa kita, Indonesia. Dan dari perjalanan bangsa ini yang sudah 76 tahun merdeka, apa yang kita dapatkan? Atau apa yang sudah kita perbuat bagi negara ini?

Berbagai peristiwa terjadi dan beberapa tahun ke belakang adalah masa-masa paling berat yang sedang bangsa ini alami. Sebagai warga negara, tentu kita berusaha sebaik mungkin agar pemulihan bagi bangsa ini terjadi. Oleh karena itu, sebagai orang yang sudah merdeka, kita tidak bisa tinggal diam dan harus mulai bergerak menyatakan kepedulian kita. Mother Theresa adalah seorang yang memakai kemerdekaannya untuk kepentingan orang lain. Ia tidak terikat dengan kepentingan pribadinya, ia memberikan dirinya untuk orang lain, apa saja yang dia miliki, ia berikan untuk sesama manusia yang membutuhkan, memakai uang hadiah nobel untuk menolong. Ia menjadi orang yang bebas menentukan dan melakukan apa saja yang ia ingin lakukan tanpa takut kepada “pembesar-pembesar”, tanpa takut untuk balas budi. Hasilnya ada ratusan bahkan ribuan orang di Calcutta yang ditolong olehnya, ada ratusan bahkan ribuan orang yang merasakan cinta Tuhan melalui dirinya.

Injil Yohanes mengatakan “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”. Makan dari roti hidup artinya kita mempunyai relasi personal dengan Kristus. Kita bukan saja merasakan kuasa dan kasih Allah, tetapi juga menikmati kebersamaan dengan Kristus. Atas dasar relasi personal dengan Kristus inilah, kita dipanggil untuk mampu menggunakan waktu yang tersedia secara bijaksana. Kita dipanggil untuk mengisi setiap kesempatan untuk mempermuliakan Allah dan mengasihi sesama. Karena inti dari seluruh rahasia hikmat adalah mempermuliakan sang Khalik dan memberlakukan kasih dan kepedulian kepada setiap orang di sekitar kita.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus