KRISTUS, IMAM BESAR KELUARGAKU

Dalam Tata Ibadah Peneguhan dan Pemberkatan Pernikahan di GKI, salah satu hal yang dilakukan di dalam ibadah adalah pertukaran tempat antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Bagi beberapa pihak, pertukaran tempat tersebut dimaknai sebagai diteguhkannya laki-laki sebagai kepala keluarga (posisi berada di sebelah kanan) dan perempuan sebagai pihak yang bersedia dipimpin (posisi berada di sebelah kiri). Namun, saat saya memimpin Ibadah Peneguhan dan Pemberkatan Pernikahan, saya memilih untuk mengungkapkan makna yang lain. Pertukaran tempat tersebut menjadi simbol diterimanya mempelai laki-laki dalam keluarga besar mempelai perempuan, demikian pula sebaliknya. Mengapa saya lebih cenderung pada pemaknaan yang demikian? Karena pada dasarnya, dalam hidup pernikahan, laki-laki dan perempuan berada dalam kesetaraan. Jikalau kita berbicara tentang kepala dalam keluarga sesuai perspektif iman, maka posisi utama justru ada pada Kristus, Sang Pemimpin yang sejati. Laki-laki dan perempuan dipanggil untuk menundukkan diri mereka pada kehendak Kristus dalam hidup berkeluarga. Itulah kunci terciptanya kehidupan keluarga Kristiani yang sehat bagi masing-masing anggotanya.

Pada pembacaan surat Ibrani, Kristus disebut sebagai Sang Imam Besar. Gelar ini menyatakan bahwa Kristuslah, Sang Pemimpin dan Sang Pengantara. Jikalau dalam tradisi Yahudi, seorang imam besar dipilih dan ditetapkan untuk mempersembahkan korban pengampunan dosa bagi umat dan bagi dirinya sendiri, maka Kritus yang tidak berdosa telah mengurbankan diri-Nya sendiri sebagai tanda pengampunan dosa yang sempurna. Kristus, Sang Imam Besar, adalah Dia yang berkuasa sebagai Anak, namun telah merendahkan diri dan belajar menjadi taat lewat seluruh kehidupan-Nya. Menjadikan Kristus sebagai Imam Besar di tengah keluarga, berarti bersedia dipimpin dan diarahkan untuk meneladani cinta dan pengurbanan Kristus sendiri. Saat masing-masing anggota keluarga menghayati kehadiran Kristus, sesungguhnya ruang bagi keegosian diri dipersempit. Para anggota keluarga tidak berupaya untuk saling menguasai dan menekan, tetapi saling melayani, sebagai Kristus pun hadir untuk melayani.

Siapakah pemimpin di tengah-tengah keluarga kita? Adakah Kristus telah menjadi Sang Imam Besar yang kepada-Nya kehidupan kita dan keluarga terarah?***

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez