KELUARGA YANG MEMILIKI IMAN SEORANG HAMBA

Dalam Injil Lukas 17:10, Tuhan Yesus berkata, “Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Ada alasan mengapa Tuhan Yesus mengatakan hal yang demikian. Pada waktu itu, banyak pengajar, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang menganggap diri mereka lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain, dan karenanya mereka senang menerima hormat. Tuhan Yesus mengecam hal tersebut dan Ia menasehati murid-murid-Nya untuk justru menempatkan diri sebagai hamba.

Yang dimaksud “hamba” dalam kitab-kitab Perjanjian Baru adalah “budak”, yaitu seseorang yang dimiliki atau dikuasai oleh orang lain. Seorang hamba/budak memiliki kewajiban untuk melayani majikannya tanpa mendapat upah. Seorang hamba tidak memiliki kebebasan sendiri, kecuali tunduk pada kehendak Sang Tuan.

Roma 6: 17-18 mengatakan, “Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Perspektif iman menolong kita untuk menyadari bahwa dulu, kita semua adalah orang-orang yang tunduk pada kuasa dosa. Namun, karya Allah di dalam Kristus Yesus telah hadir dan membebaskan kita. Kita sekarang adalah orang-orang yang tidak lagi takluk pada kuasa maut, tetapi orang-orang yang telah mengalami terang Tuhan, orang-orang yang dibarui, orang-orang yang diampuni. Dalam kebebasan dan kemerdekan atas dosa yang telah Allah anugerahkan itu, kita kemudian dipanggil untuk menjadi hamba kebenaran; menjadi hamba Kristus yang siap untuk melayani-Nya kapan pun, di mana pun!

Melayani keluarga, dengan demikian tidak dapat dilepaskan dari panggilan kita melayani Kristus. Apapun yang kita lakukan di tengah-tengah keluarga kita: mendampingi pasangan, merawat orang tua atau anak, mencari nafkah bagi keluarga, mendampingi anak yang mungkin berkebutuhan khusus, semuanya perlu kita hayati sebagai wujud pelayanan kita bagi Kristus. Kehendak-Nya menjadi pandu utama bagi kita untuk menentukan sikap dalam menghadapi aneka tugas dan tantangan di tengah hidup berkeluarga. Menyadari bahwa masing-masing dari kita adalah hamba Kristus, mendorong setiap anggota keluarga untuk terlibat aktif dalam melayani, bukan hanya menunggu untuk dilayani. Tidak hanya itu, menyadari keberadaan kita sebagai hamba Kristus, menolong kita untuk tidak terjebak pada pemuliaan diri sendiri atau keinginan untuk dipuji dan dihargai secara berlebihan. Kita semua adalah hamba-hamba-Nya, yang sudah lebih dahulu dikasihi, sehingga kita pun ingin mengasihi yang lain. Mari kita menghayatinya mulai dari hidup berkeluarga kita masing-masing.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez