JOKOWI, YOHANES, DAN POSISI “ANTARA”

Saat dipilih menjadi Presiden dari bangsa yang terpuruk dalam segala aspek kehidupan, Jokowi pasti bergumul dengan pertanyaan penting. “Bagaimana mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa yang maju, adil, dan sejahtera?” Jokowi harus berpikir dan bertindak cepat dalam masa kerja singkat. Ia harus kreatif dan inovatif agar bangsa ini bertransformasi menjadi bangsa yang maju dan modern, adil dan sejahtera, serta semakin demokratis dan Pancasilais.

Untuk mencapai visi besarnya itu, butuh semcam revolusi budaya. Jokowi pun menekankan perlunya revolusi mental. Gagasan revolusi mental dilontarkan pertama kali oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. “Perjuangan kita bukan lagi mengangkat senjata, tetapi membangun jiwa bangsa,” katanya. Untuk maju dan modern, adil dan sejahtera, demokratis dan Pancasilais butuh jiwa yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Revolusi Mental menjadikan manusia Indonesia manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Itulah kunci penting yang akan mengubah Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Mentransformasi budaya suatu bangsa bukanlah pekerjaan ‘sim salabim.’ Revolusi budaya butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun. Tidak ada waktu menunggu! Tidak boleh kerja lelet. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Masa kerjanya terbatas. Jokowi bukanlah Lee Kuan Yew yang mengubah Singapura. Jokowi bukanlah Xi Jinping yang mentransformasi China sehingga mampu mengimbangi Amerika Serikat. Kedua tokoh di atas punya waktu dan otoritas yang tidak terbatas. Jokowi bekerja dalam otoritas dan waktu yang terbatas. Saya yakin, situasi ini menggelisahkannya. Tetapi, ia harus menerimanya karena kita negara demokrasi. Jokowi tak punya waktu menunggu. Tidak ada waktu berleha-leha. Bila mau menjadi lebih baik, bekerjalah! Bukan diam! Ciptakan peluang. Buatlah kesempatan. Jokowi tegaskan perlunya: “kerja…kerja…kerja…” Tentu saja kerja keras dan inovatif dalam kejujuran dan hikmat!

Jokowi harus waspada. Dalam meraih visi besarnya, tidak semua yang bekerja sama dengannya mendukungnya. Boleh saja Jokowi berpikir ideal bahwa Undang-undang (UU) ‘Sapu Jagat’ Cipta Kerja dibuat agar investasi dari luar sana segera membanjiri Indonesia. Lapangan pekerjaan bagi rakyatnya akan tersedia. Segala hambatan pun diratakan. Semua jalan diluruskan, tetapi, seperti kata Alkitab, “di tengah gandum selalu ada ilalang.” Di tengah yang baik selalu ada yang brengsek. UU Cipta Kerja dibuat terburu-buru. Tanpa dialog dengan semua stake holders. Semua dilakukan tertutup. Berbagai kepentingan buruk pun masuk. Dalam UU Cipta Kerja itu, posisi pekerja sangat rapuh. Mereka dikorbankan. Dalam UU Cipta Kerja, para investor seperti mobil yang berjalan cepat tanpa rem. Untung Mahkamah Konstitusi segera menarik ‘rem emergency.’ UU Cipta Kerja harus direvisi! Memang, untuk mencapai yang baik, tidak seorang pun harus dikorbankan.

Yohanes pun gelisah! Saat kedatangan-Nya hampir tiba dan ketika keselamatan sudah di depan mata, banyak orang masih lelet. Kalau pun sibuk untuk diri sendiri. Tidak seorang pun mempersiapkan diri. Dalam kegelisahan itu, Yohanes berteriak: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Bagi Yohanes, untuk menyambut keselamatan itu, kita butuh kesadaran pada posisi mental dan spiritual: ada dimana kita dan kemana kita menuju? Kesadaran itu menjelaskan bahwa kita semua berada dalam proses ‘antara.’ Kita tidak boleh ‘stuck’ tetapi harus berubah. Harus mengalami transformasi! Kesadaran berada dalam posisi antara kini dan nanti membutuhkan sikap mental baru. Kita butuh revolusi mental. Dalam revolusi mental itu ada dua aspek yang perlu dilakukan.

Pertama, perlu transformasi personal yang membutuhkan self-reflection sekaligus self-correction, yaitu kemampuan melihat ke dalam diri sendiri dan mengubahnya. Dalam self-reflection dan self-correction kita berupaya meneruskan yang baik dan memperbaiki yang buruk. Dan ini di mulai dari kesadaran bahwa potensi ‘gandum dan ilalang’ itu bahkan ada dalam diri kita sendiri. Di sini perlu jujur terhadap diri sendiri!

Kedua, kita juga butuh proflection, kemampuan mentransenden diri, keluar dari egoisme dan kepentingan diri sendiri. Dalam proflection, kita sadar bahwa kita ini hidup bukan untuk diri sendiri. Bukan juga untuk kelompok kita sendiri. Sebaliknya, kita berjuang keras melakukan transformasi sosial untuk kebaikan masyarakat, bangsa dan negara. Perjuangan itu tidak mudah. Ini bukan pekerjaan ‘sim salabim’. Seperti Jokowi, kita pun akan berjumpa dengan ‘gandum’ yang bisa diajak bekerja sama, tetapi juga dengan ‘ilalang’ yang kerjanya merusak kerja dan upaya kita. Yang terpenting dan harus diingat adalah ini: bersiaplah agar bukan kita yang menjadi ilalang dari karya keselamatan Tuhan!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty