JANGKAR JIWA

Ternyata tidak semua kapal karam karena badai. Ada kapal yang tenggelam justru saat cuaca cerah. Mesin bekerja sempurna, langit biru, ombak tenang, dan para awak merasa semuanya baik-baik saja. Tanpa disadari, arus laut perlahan menyeret kapal keluar jalur hingga menghantam karang. Bukan badai yang menghancurkannya, melainkan hilangnya orientasi.

Semua Butuh Jangkar Hidup
Kita mengira jangkar hidup hanya dibutuhkan saat menghadapi masalah: kehilangan pekerjaan, sakit, kegagalan, atau ditimpa musibah. Salah! Seseorang yang berada di puncak kesuksesan pun membutuhkannya. Ketika segala sesuatu berjalan baik, justru muncul godaan untuk merasa cukup dengan diri sendiri. Kesuksesan dapat membuat seseorang kehilangan kerendahan hati, melahirkan kesombongan, dan menjadi tumpul terhadap penderitaan sesama. Tidak sedikit orang yang tampaknya hidup tanpa masalah, tetapi sesungguhnya sedang kehilangan arah.

Inilah salah satu ironi di zaman kita. Kita kaya informasi tetapi miskin kebijaksanaan; kaya teknologi tetapi miskin makna; semakin banyak pilihan tetapi semakin sedikit pegangan. Bangsa kita pun menghadapi kenyataan seperti itu. Di satu sisi, pembangunan terus berlangsung, teknologi berkembang pesat, dan berbagai peluang ekonomi terbuka. Namun, di sisi lain, korupsi makin marak, penyalahgunaan kekuasaan terus terjadi, kekerasan dan intoleransi masih muncul, perusakan lingkungan terus dilakukan, sementara budaya konsumtif dan pencarian popularitas sering kali menggeser nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian.

Krisis Orientasi Jiwa
Semua itu menunjukkan bahwa krisis terbesar belum tentu krisis ekonomi atau politik. Krisis yang lebih mendasar adalah krisis orientasi jiwa. Manusia kehilangan titik tumpu. Ia tidak mampu membedakan antara benar dan salah, keberhasilan dan keserakahan, antara kebebasan dan kesewenang-wenangan, serta antara kemajuan dan kemanusiaan.

Di sinilah firman Tuhan berbicara dengan sangat mendalam:
“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita…” (Ibrani 6:19).

Penulis Ibrani memakai gambaran sebuah jangkar. Anda tahu, jangkar bukan hanya dipakai ketika badai datang. Ia menjaga kapal tetap berada pada tempat yang benar, tidak hanyut oleh arus yang sering kali tidak terasa.

Demikian pula pengharapan kepada Kristus bukan sekadar obat penenang bagi orang yang sedang menderita. Pengharapan adalah orientasi hidup. Ia menjaga manusia agar tidak hanyut oleh arus zaman, oleh ambisi yang tidak mengenal batas, dan oleh budaya yang mengukur nilai manusia hanya berdasarkan prestasi, kekayaan, atau pengaruh.

Beda Pengharapan dan Optimisme?
Teolog Jerman, Jürgen Moltmann, mengingatkan bahwa pengharapan Kristen berbeda dengan optimisme. Optimisme percaya karena keadaan tampak menjanjikan. Pengharapan percaya karena Allah setia kepada janji-Nya. Namun pengharapan juga bukan alasan untuk berdiam diri. Justru karena masa depan ada di tangan Allah, orang percaya dipanggil menjalani hidup hari ini dengan tanggung jawab, keberanian, dan integritas.

Kita perlu memperluas makna “jangkar jiwa”. Jangkar bukan hanya menolong kita bertahan ketika hidup berguncang. Jangkar juga menjaga kita ketika hidup sedang berjalan mulus. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan bukan tujuan akhir, melainkan kesempatan untuk melayani. Ia menahan kita agar tidak terseret oleh arus keserakahan, narsisme, dan penyalahgunaan kekuasaan yang sering kali dibungkus dengan kata-kata seperti kemajuan, efisiensi, atau prestasi.

Dalam pengertian ini, orang yang korup sebenarnya bukan pertama-tama kehilangan uang, melainkan kehilangan jangkar. Orang yang menyalahgunakan jabatan bukan pertama-tama mengalami krisis hukum, melainkan krisis jiwa. Orang yang mengorbankan sesama demi keuntungan pribadi bukan hanya sedang menciptakan masalah bagi orang lain, tetapi sedang menghanyutkan dirinya sendiri menuju kehancuran. Bahaya terbesar bukanlah badai yang tampak, melainkan arus yang pelan-pelan menggeser hati menjauh dari Allah tanpa disadari.

Karena itu, gereja tidak hanya dipanggil menguatkan mereka yang sedang menderita. Gereja juga dipanggil menolong mereka yang sedang berhasil agar tidak kehilangan arah. Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang kuat menghadapi penderitaan, tetapi juga orang-orang yang tetap rendah hati ketika berhasil, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk curang, tetap adil ketika memegang kekuasaan, dan tetap mengingat Tuhan ketika segala sesuatu tampak baik-baik saja.

Akhirnya, jangkar jiwa bukanlah perlengkapan darurat yang dikeluarkan ketika badai datang. Jangkar adalah cara hidup. Ia membuat kita tetap tertambat kepada Kristus, baik ketika laut bergelora maupun ketika laut tampak tenang. Sebab, yang paling menentukan dalam hidup bukanlah seberapa besar badai yang kita hadapi, melainkan kepada siapa jiwa kita tertambat.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "JANGKAR JIWA"


    Got something to say?

    Some html is OK