JANGAN TERUS MENENTANG

“Diberitahu hal yang benar, malah ngeyel!” Apakah Saudara pernah mengungkapkan kata-kata tersebut kepada orang lain? Mungkin kita pernah mengatakannya, atau justru menerima kata-kata tersebut dari orang lain. Istilah “ngeyel” berasal dari kata dasar “eyel” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: tidak mau kalah.

Dalam kehidupan ini, ada situasi-situasi di mana kita perlu bersikap “ngeyel”. Terutama, ketika kita sedang berhadapan dengan aneka kecemaran dan godaan. Dipengaruhi supaya korup, kita harus “ngeyel” untuk tetap jujur. Diprovokasi supaya membenci, kita harus “ngeyel” untuk tetap tetap mengasihi. Di tengah aneka pengaruh dosa, kita harus terus melawan, menentang, dan berusaha menang sebagai para pengikut Kristus yang setia.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari kita justru lebih sering “ngeyel” terhadap didikan Tuhan, dan “kekeuh” pada kebiasaan serta pandangan kita sendiri. Kita menentang perintah Tuhan, karena kita merasa punya pemikiran dan rancangan yang lebih baik. Apalagi kalau perintah Tuhan itu ternyata membuat kita merasa tidak nyaman, semakin kita ingin mengabaikan dan menghindarinya.

Itulah yang diungkapkan dalam Matius 11:17, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.” Ini adalah gambaran bagaimana manusia menolak dan menentang didikan serta panggilan Allah. Pada waktu itu, Yohanes Pembaptis yang menyampaikan berita pertobatan malah dianggap sebagai orang yang kerasukan setan. Yesus yang menunjukkan tanda-tanda Kerajaan Allah bagi semua orang, malah dibenci karena dianggap sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Ironisnya, sebagian besar dari mereka yang menentang Yesus merupakan para ahli agama, ahli Taurat dan orang Farisi; orang-orang yang merasa tahu tentang Allah, tetapi ternyata tidak cukup rendah hati untuk mau diajar dan menerima
kebenaran-Nya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk orang-orang yang “ngeyel” terhadap ajaran dan didikan Tuhan? Apakah kita seringkali merasa bahwa pilihan kita jauh lebih baik dan menyenangkan ketimbang panggilan Tuhan melalui firman-Nya? Marilah kita menjadi orang-orang yang memiliki keterbukaan pada proses pembentukan Tuhan. Dengan kerendahan hati tersebut, niscaya hidup kita pun akan dipenuhi oleh damai sejahtera. Sebagaimana janji Tuhan Yesus sendiri, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28-29).

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza