Jangan Menyerah Meski Tak Mudah

Apa yang akan Anda lakukan bila mengalami sakit yang tak tersembuhkan? Atau bila mengancam nyawa Anda atau orang yang Anda kasihi? Tidakkah Anda akan mengusahakan cara pengobatan tercanggih atau mendatangi dokter terbaik agar keadaan Anda membaik?

Tentulah Yairus sudah mengusahakan semua yang terbaik untuk kesembuhan anak perempuannya yang sedang sakit. Tetapi semua nihil. Anaknya tetap sakit dan hampir mati. Sampai akhirnya ia rela datang tersungkur di depan kaki Yesus. Tentu ini bukan hal mudah. Bagaimana mungkin seorang kepala rumah ibadat membutuhkan seorang guru keliling? Bukankah nama besar dan posisi terhormat biasanya membuat orang sulit merendahkan diri? Namun ia percaya bahwa Yesus dapat berbuat sesuatu untuk anaknya. Dan imannya terbukti, anaknya yang sudah mati dipegang oleh Yesus dan dibangkitkan.

Demikian pula dengan perempuan yang sudah sakit pendarahan selama 12 tahun. Ia sudah berobat berulangkali sampai hartanya habis, tetapi tidak ada hasil. Tidak ada harapan lagi. Hingga tinggal satu pribadi yang kabarnya dapat menolong, yaitu Yesus. Mendatangi Yesus secara terbuka tidak mungkin dilakukan, karena aturan saat itu memandang sakit yang demikian adalah najis. Namun harapan kesembuhan yang membara mendorong dia untuk memberanikan diri menjamah Tuhan Yesus, yang dipercaya dapat berbuat sesuatu. Dan akhirnya, ia disembuhkan.

Kedua kisah itu mengisyaratkan kita untuk tidak menyerah dalam hal apapun, sekalipun seakan-akan tidak ada harapan! Sebab harapan satu-satunya adalah Yesus. Pribadi yang “memegang” dan “disentuh” itu lebih dari sekadar seorang manusia. Sesungguhnya Dia juga adalah Tuhan atas penyakit dan kematian. Kita perlu mengakui, bahwa segala sumber pertolongan lain gagal untuk kita andalkan. Seperti bagi Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan, bagi kita pun selalu ada harapan untuk sebuah pertolongan. Tuhan itu Mahakuasa! Masalahnya, sudahkah kita percaya dan datang kepada-Nya memohon pertolongan dengan kerendahan hati?

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto