Israel – Palestina: Keadilan Menjauh

MS, siswi SMA di Bengkulu dikeluarkan dari sekolah dan ditangkap polisi setelah videonya yang menghina Palestina di akun TikToknya viral di media sosial. Di video yang beredar, MS terlihat melontarkan kata-kata kasar pada Palestina (Kompas 19-5-2021). Beberapa hari sebelumnya, seorang pemuda berinisial HL di Lombok Barat, NTB, juga ditangkap polisi. Dalam videonya yang berdurasi 13 detik itu HL menari diiringi musik dengan lirik yang melecehkan Palestina (Kompas 16-5-2021). Memang, kedua orang itu sangat tidak etis, tetapi tidak ada dasar hukum yang bisa digunakan polisi untuk menyeret orang yang melecehkan bangsa lain. Membawa persoalan ini ke ranah hukum sangat melenceng jauh! Lalu, mengapa keduanya ditangkap?

Konflik paling sexy dan paling menyita perhatian umat manusia adalah konflik Israel-Palestina. Segala aspek bersemrawut di situ. Ada persoalan sejarah, politik, agama, dan ekonomi. Setiap kali konflik ini meledak, orang tidak bisa berpikir obyektif. Semuanya jadi subyektif. Orang gagal bernalar secara rasional. Semuanya serba emosional. Tumpulnya nalar diperparah dengan terjangan hoax dan berbagai cerita bohong melalui media sosial. Semua orang makin jauh tersesat jauh ke planet Mars. Respons dungu pun bertebaran di mana-mana. Gara-gara ketidaktahuan!

Salah satu contoh ketidaktahuan itu adalah ini. Banyak orang diarahkan untuk melihat seolah seluruh rakyat Palestina beragama Islam. Lalu, perjuangan Palestina diidentikkan dengan perjuangan Islam. Memandang seperti ini bukan saja salah besar, tetapi juga sangat picik dan sempit. Perjuangan keadilan dan kemanusiaan berubah menjadi perjuangan demi eksistensi agama. Lebih dari itu, melihat dengan kaca mata sempit ini berpotensi memecah-belah bangsa Palestina. Nampaknya ditangkapnya MS dan HL yang menghina Palestina tidak terlepas dari pandangan picik di atas. Padahal, rakyat Palestina menganut beragam agama: Islam, Kristen, Yahudi, Druze, Bahai, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan harmonis. Mengucapkan selamat hari raya keagamaan tidak diharamkan. Menikah antar agama pun sudah biasa. Hal itu karena rakyat Palestina berpikir sebagai satu bangsa, bangsa Palestina. Bukan berpikir dalam penjara eksklusifisme atau primordialisme agama yang sempit. Pemimpin Palestina Yasser Arafat, misalnya. Dia menikahi Suha Tawil, gadis Arab Kristen. Setiap kali Suha ke gereja, Yasser Arafat mendampinginya. Tak masalah! Toleransinya tinggi! Aman kok. Kita saja yang usil mencampuri urusan pribadi orang lain.

Konflik Israel-Palestina bukanlah konflik antar agama, tetapi konflik demi memperoleh keadilan bagi bangsa Palestina dan demi keamanan bagi bangsa Israel yang selalu terancam. Penyelesaian konflik ini masih sangat jauh, tetapi upaya dialog dan rasa saling percaya harus dilakukan. Dan ini masih gagal total! Pendekatan dialog yang diinisiasi Yasser Arafat (PLO) dan Menachem Begin (PM Israel) hancur berantakan. Perlawanan intifadah dengan kekerasan yang diorganisir faksi Hamas terus berlangsung. Korban dikedua belah pihak terus berjatuhan. Tentu saja, korban paling besar adalah rakyat Palestina karena mereka tidak akan pernah mampu melawan kecanggihan teknologi perang Israel.

Celakanya, secara politik bangsa Palestina terbagi dalam dua faksi besar yang bertikai, yaitu faksi Fatah yang dikenal sebagai Palestine Liberation Organization (PLO) dan faksi Hamas, gerakan Islam militan. PLO menguasai daerah Tepi Barat, Hamas menguasai Jalur Gaza. PLO sudah mendapatkan pengakuan bangsa-bangsa, termasuk Indonesia. Sebaliknya, Hamas dituding sebagai organisasi teroris, bahkan oleh negara-negara Arab sendiri. Nah, konflik yang meledak di Jalur Gaza sekarang adalah antara Israel dan Hamas, faksi militan yang memang tujuannya menghapuskan eksistensi Israel.

Mungkinkah persoalan Israel-Palestina akan selesai? Rasanya makin sulit! Situasi geo-politik di Timur Tengah akibat persaingan Iran yang Syiah dan negara-negara Arab yang Sunni makin memanas. Efeknya, beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, menjalin hubungan akrab dengan Israel yang kekuatan militernya sanggup menandingi ancaman Iran. Sementara itu, masyarakat Barat, terutama kaum Kristen konservatif, yang punya lobby politik kuat melihat eksistensi Israel di tanah Palestina sebagai bagaian dari teologi eskaton, akhir jaman. Meski demikian, peperangan yang sia-sia melawan Israel tetap menjadi strategi politik para petinggi Palestina demi mendapatkan perhatian dunia. Efeknya adalah uang! Isu agama dalam konflik itu pun demi tujuan yang sama. Tidak lebih dari itu! Nasib rakyat Palestina makin terlupakan oleh kepentingan politik, ekonomi dan justifkasi agama. Rakyat Palestina makin termarjinalisasi! Keadilan menjauh!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty