Hidup Beriman Yang Benar

Zaman berkembang dan berubah dengan cepatnya. Siapa yang menyangka bahwa sekarang kita makin terbiasa menggunakan ruang virtual untuk pertemuan-pertemuan, interaksi satu dengan yang lain di media sosial semakin intens, penggunaan media digital semakin sering dan sebagainya. Inilah kehidupan dunia di sekitar kita berubah dengan cepat, lalu bagaimana dengan kehidupan iman kristiani kita? Sejauh mana iman dan praksis iman berjalan beriringan sehingga firman Tuhan terwujud dalam kehidupan ini? Apakah kita mendekat kepada Tuhan ataukah justru menjauh dari-Nya?

Konflik antara para pemimpin orang Yahudi dan Yesus terlihat jelas dalam Markus 7: 1-8, 14–15, 21-23. Mereka sengaja melakukan perjalanan dari Yerusalem untuk mendatangi Yesus yang sedang melakukan pelayanan di daerah Genesaret dan mencari cara serta bukti untuk menjatuhkan Yesus, yaitu saat mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis karena tidak dibasuh. Ritual pembasuhan menjadi bahasan penting yang diatur dengan cara cermat utnuk menghindari pencemaran terkait aturan persiapan makanan, makan dan kepada siapa saja makanan ini boleh dibagikan. Bagi orang Yahudi lebih baik menghindari pencemaran daripada menjalankan ritual pembasuhan. Dampaknya, larangan-larangan ini menghasilkan pembedaan status sosial dan membuat tembok pemisah antara yang kaya dan yang miskin, antara orang Yahudi dan non-Yahudi, antara laki-laki dan perempuan, antara yang tahir dan yang najis, antara yang halal dan haram, dan sebagainya. Hal-hal ini akhirnya justru membuat orang jatuh pada legalitas hukum daripada maksud hukum-hukum atau larangan-larangan tersebut dibuat.

Berhadapan dengan ritual meja makan, Yesus mengajarkan sikap inklusif, terbuka, meruntuhkan tembok pemisah. Yesus mengajarkan cara pandang baru terhadap sikap mereka yang cenderung menghasilkan hal negatif, yaitu munafik, ambigu dan legalis. Bahwa apapun dari luar yang masuk akan diproses sehingga tidak menajiskan seseorang. Hal yang membuat najis adalah yang keluar dari seseorang, artinya harus hati-hati terhadap keinginan dari diri seseorang. Beriman kepada Tuhan tidak mencari aman, namun kita bersedia untuk bergumul bersama dengan Tuhan.

 

Oleh : Pdt. Esther Setianingrum