Hati Yang Tearah Kepada Roti Hidup

Salah satu kebutuhan primer manusia adalah pangan atau makanan. Kita makan karena kita membutuhkan tenaga. Kita makan karena itu adalah kebutuhan kita, tetapi yang paling utama, kita makan karena lapar. Tanpa diajari, secara alamiah, sejak bayi, jika lapar maka kita mencari makanan. Ketika lapar, kita makan kemudian kita kenyang dan puas. Bagaimana jika kita lapar dan tidak ada makanan? Yang terjadi bisa saja seperti bangsa Israel. Ketika berada di padang gurun Sin, mereka kelaparan dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka makan, maka bersungut-sungutlah mereka, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana supaya perut mereka kenyang dan tidak lapar lagi. Mereka lupa, bahwa Tuhan Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir adalah Tuhan Allah yang memelihara dan peduli pada umat-Nya, yang tidak akan membiarkan mereka kelaparan. Bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar makanan jasmani, yaitu pengenalan dan kepercayaan kita kepada Tuhan Allah yang memberikan makanan jasmani itu.

Seperti halnya makanan jasmani, makanan rohani pun sangat kita butuhkan. Makanan yang akan menjadi tenaga dan kekuatan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Makanan yang menjadi sumber energi dan semangat untuk berjuang dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Roti Hidup. Ia menawarkan kepada banyak orang, termasuk saya dan Saudara untuk datang kepada-Nya, sehingga ketika kita makan dan menikmati Roti itu kita tidak akan lapar dan haus lagi.

Roti Hidup inilah yang akan menjadi sumber energi, kekuatan dan tenaga bagi kita untuk menghadapi berbagai pergumulan, tantangan, persoalan dalam hidup kita. Oleh karena itu, datanglah pada Kristus, Sang Roti Hidup, miliki pengenalan yang benar tentang-Nya, nikmati dan rasakan kuasa dan kasih-Nya, maka kita akan mengalami kepuasan dan jiwa kita dikenyangkan.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus