HAK GUNA PAKAI

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus,…..

Zaman Tuhan Yesus adalah zaman yang keras. Peristiwa seperti peperangan atau bencana alam dapat dalam sekejap mencampakkan keadaan seseorang dari pas-pasan menjadi tidak memiliki apa-apa. Apa yang dimiliki seseorang, bisa raib seketika.

Jika itu terjadi, lembaga keluarga besar dan kekerabatan marga ala Yahudi menjadi semacam JPS (Jaring Pengaman Sosial) dalam keadaan ini. Namun, JPS ini sirna bila seseorang melakukan sesuatu yang ditentang keluarga besar dan kerabatnya, misalnya: menjadi pengikut Yesus. Karena itu, seorang murid kala itu dihadapkan pada pertanyaan: apa JPS-nya bila ia mengikut Yesus? Bagaimana bila panennya gagal, atau alat bertaninya (satu-satunya kekayaan / harta yang dimiliki para petani) dirampok? Bagaimana Yesus menjawab masalah ini?

Yesus memberikan 2 jawaban: pertama, juallah segala milik dan berikanlah sedekah (Lukas 12 : 33). Tantangan radikal dari Tuhan Yesus ini bertujuan agar orang bisa lepas dari belenggu harta yang menghalangi orang mendapatkan Kerajaan Allah yang kekal.

Kedua, jangan kuatir (Lukas 12 : 22). Mengapa? Allah Bapa itu Mahakuasa. Ia tidak mengajak murid-Nya untuk membenci kekayaan, melainkan tetap beriman kepada Allah yang setia menyediakan providensi dan “jaring pengaman”-Nya, agar bisa tetap dekat dengan Allah. Lihatlah burung gagak, yang tidak menabur dan menanam, tidak juga membuat lumbung, tetapi tetap bisa makan karena Tuhanlah yang memberinya. Lihatlah bunga bakung, yang tidak meminta dan menenun, tetapi memiliki bunga yang indah melebihi keindahan dan kemegahan pakaian Salomo.

Karena itu, beriman bukanlah sekadar percaya, tetapi menunjukkan bagaimana kedaulatan Allah nyata dalam diri kita. Allah setia memelihara melalui karya kasih-Nya yang “alamiah” maupun yang luar biasa.

Melalui pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mengajak kita memiliki orientasi hidup yang mengandalkan Tuhan, dan bukan pada harta. Harta dan apapun yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan. Semua itu adalah anugerah. Sekalipun begitu, kita hanya memiliki hak untuk menggunakan semuanya itu sebagai penunjang hidup, dan bukan pengendali hidup. Tuhanlah yang harus kita andalkan, dan bukan pada harta yang bisa lenyap seketika.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto