Gembalaku Sahabatku Yang Baik

Bacaan hari ini memperlihatkan 2 cerita. Pertama, begitu banyaknya orang-orang yang selalu mengikuti-Nya dan mengharapkan mendapat pengajaran dari-Nya, sehingga makanpun Ia tidak sempat (Markus 6 : 30 – 34). Kedua, hampir sama dengan pertama, banyak orang yang setelah tahu dan mengenal Yesus yang mendarat di Genesareth, maka segeralah Yesus melayani mereka. Banyak orang sakit saat itu yang disembuhkan. Kedua kisah itu dapat disimpulkan seperti perkataan penulis Markus, “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” (Markus 6 : 34)

Begitulah Yesus, tidak bisa melihat banyak orang yang sedang mengalami kesusahan, dan hati-Nya segera tergerak oleh belas-kasihan ingin menolong dan melayani mereka. Itulah empati! Ya, Yesus memiliki empati yang sangat besar terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya, sehingga tidak jarang Ia mengabaikan kepentingan-Nya sendiri.

Sikap seseorang yang begitu berempati terhadap keadaan orang lain adalah ciri seorang Gembala, yang oleh Mazmur 23 digambarkan sebagai pelaku, yang selalu mencukupkan kebutuhan dombanya; menyertai para dombanya saat melewati perjalanan yang sulit dan melindungi mereka. Dan Yesus memiliki gambaran seorang Gembala, yang selalu berusaha memelihara keadaan para domba-Nya agar tetap dalam keadaan damai dan sejahtera.

Sungguh ini adalah suatu gambaran yang menyejukkan bagi setiap orang yang berada di tengah dunia yang kian panas dan membara. Manakala kita berpaling ke sekeliling kita, tidaklah kita temukan orang yang kepadanya kita dapat menaruh harap dan percaya kita, karena semua seperti penjaga-penjaga upahan, yang akan lari menyelamatkan diri bila ada bahaya. Namun, dengan berpaling kepada Tuhan dan mengalami perjalanan hidup bersama-Nya, kita tahu bahwa Dia adalah Gembala yang baik.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto