DONGENG SAIDAH!

Orang Indramayu punya dongeng rakyat yang menarik. Ceritanya begini. Konon, ada seorang perempuan miskin bernama Saidah. Ia sudah jenuh dengan kemiskinannya. Ia ingin menjadi kaya dan terkenal. “Apa pun akan aku lakukan agar aku kaya dan terkenal,” begitulah pikirnya. Singkat cerita, ia berjumpa dengan ratu buaya. Lalu terjadilah percakapan. Ratu buaya menyanggupi akan membuatnya menjadi perempuan yang kaya raya dan terkenal. Tetapi ada syaratnya. Saidah tertarik. Lalu bertanya syaratnya. Ratu buaya berkata „syaratnya hanya satu yaitu di penghujung hidupmu kamu akan menjadi buaya.” Saida tidak berpikir panjang. Ia pun menyanggupi. Beberapa waktu kemudian memang benar, Saidah menjadi pesinden yang sangat terkenal dan kaya raya. Tetapi, di penghujung hidupnya, ia harus segera meninggalkan rumah dan hartanya. Ia berlari menuju sungai dan berubah menjadi seekor buaya.

Pesan cerita di atas adalah orang sering terlalu bernafsu menjadi kaya, terkenal, berjabatan dan berpangkat tinggi. Nafsunya itu membuat seseorang menjadi lost control. Lalu menghalalkan segala cara. Pokoknya bisa kaya dan terkenal. Ibarat mobil berjalan tanpa rem dan akhirnya menabrak segala rambu dan segala aturan. Akhirnya mengorbankan banyak orang di sekelilingnya. Orang-orang seperti ini, menurut dongeng di atas, akan mengalami kemalangan. Saidah menerima nasib tragis. Ia menjadi buaya. Freddy sang gembong narkoba menerima hukuman mati. Ada pejabat koruptor yang akhirnya mendekam dalam penjara. Mereka kehilangan harga diri. Dan nama baik! Malu tujuh turunan!

Bolehkah orang bercita-cita menjadi kaya dan terkenal? Tentu saja boleh! Asalkan didapat melalui jalan yang halal. Melalui kerja keras, pengorbanan dan kejujuran! Persoalannya banyak orang yang dalam tindakannya lebih dituntun oleh nafsu dan hasratnya. Manusia seperti ini tidak lagi memiliki kesadaran. Dan memang, “manusia itu tidak memiliki kesadaran atau hati nurani. Semua tindakannya adalah ekspresi dari nafsunya,” kata Sigmund Freud, psikolog penemu teori psikoanalisa. David Hume mendukung Freud. Menurut Hume, akal manusia itu hanyalah budak dari emosi yang dikuasai nafsu. Akal berfungsi untuk mencari justifikasi alias merasionalisasikan tindakan yang dikendalikan oleh nafsu. Foucault tidak setuju dengan Freud dan Hume. “Tindakan manusia bukan dituntun oleh nafsu,‟ katanya. Foucault percaya tindakan manusia adalah akibat konstruksi sosial. Manusia bagaikan kertas putih yang isinya ditulis oleh lingkungannya. Manusia bertindak karena lingkungan sosialnya menggariskannya untuk melakukan tindakan itu. Baik Freud, Hume dan Foucault tidak percaya bahwa manusia punya kesadaran. Bagi mereka, manusia adalah robot dari nafsu dan dari lingkungan sosial sekitarnya. Apa memang begitu? Rasanya tidak! Manusia bisa menjadi robot, tetapi bisa menjadi tuan atas hidupnya.

Yesus berkata “siapa yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Melalui kata-kata-Nya ini Yesus ingin agar kita tidak lost control. Kita bukan budak nafsu. Kita bukan kertas putih yang tindakannya ditentukan oleh pengaruh negatip dari luar diri kita. Kita adalah pengikut Kristus. Bukan nafsu dan lingkungan sosial yang menentukan tindakan kita, tetapi Yesus. Kristus yang menentukan kemana kita melangkah. Kita akan terus berjalan mengikuti-Nya. Jalan Tuhan bukan sekedar jalan salib, tetapi juga jalan kebangkitan. Jalan kemenangan! Kita akan menang atas tantangan dan persoalan! Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Yesus menolong kita.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty