Bersiap Menabur

Tabur waktu pagi, tabur benih kasih,
tabur waktu siang t’rus sampai senja.
Nantikan tuaian pada musim panen,
kita ‘kan bersuka bawa berkas-Nya.
Bawa berkas-Nya masuk lumbung-Nya,
kita ‘kan bersuka bawa berkas-Nya.
Bawa berkas-Nya masuk lumbung-Nya,
kita ‘kan bersuka bawa berkas-Nya.

Demikianlah lirik pada bait pertama lagu NKB 208, berjudul “Tabur Waktu Pagi”. Judul asli lagu ini adalah Bringing In the Sheaves, yang syairnya digugah oleh seorang bernama Knowles Shaw (1834-1878). Dalam lagu ini, kita digambarkan sebagai orang-orang yang bekerja di ladang untuk menaburkan benih. Benih-benih itu sendiri adalah milik Allah, sang Empunya ladang. Pekerja-pekerja-Nya diminta untuk menabur dan merawat benih dengan rajin sampai waktu panen tiba.

Dunia ini dapat digambarkan sebagai ladang milik Allah. Sebagai orang percaya, kita bekerja bagi Allah untuk terus menaburkan benih-benih firman dan Kerajaan-Nya di tengah dunia. Penggambaran proses menabur yang dilakukan di pagi hari, menandakan betapa terbatasnya waktu yang kita miliki. Dalam Yohanes 9 : 4, Tuhan Yesus berkata, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”

Dalam kehidupan sehari-hari, menabur benih firman Tuhan tidak selalu mudah. Kasih dan kebaikan yang kita sebar, mungkin dapat dibalas dengan hal yang sebaliknya. Namun, Allah meminta kita untuk terus bekerja dengan setia. Pada dasarnya, pertumbuhan benih berada dalam waktu dan kuasa Allah. Apa yang kita tabur saat ini, mungkin tidak langsung menunjukkan hasilnya. Namun, firman Tuhan sendiri berkata kepada kita bahwa jerih payah yang kita lakukan di dalam Kristus tidak akan pernah sia-sia (1 Kor 15 : 58).

Mari terus menaburkan benih-benih firman Tuhan melalui seluruh kehidupan kita. Tanamkanlah kasih Tuhan pada anak-anak kita, sampaikanlah kasih Tuhan pada orang tua kita, nyatakanlah kasih Tuhan di tengah masyarakat kita. Biarlah pertumbuhan yang baik Tuhan anugerahkan bagi benih-benih yang telah kita sebar, dan biarlah diri kita pun senantiasa mengalami pertumbuhan yang semakin teguh di dalam Dia.
Tuhan bersama kita.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza