Berani Hidup

Jika ada yang mengatakan pada Saudara bahwa dia berani mati untuk Saudara, apa yang Saudara rasakan? Senang? Bangga? Tersanjung? Terharu? Mungkin juga hati bertanya-tanya, “apa yang membuat orang tersebut berani mati?” Alasan yang paling kuat dan seringkali muncul adalah karena iman dan cinta. Oleh karenanya seringkali juga orang menyamakan antara berkorban dan berani mati. Padahal berkorban dan berani mati adalah dua hal yang berbeda. Orang-orang yang menyatakan “berani mati” memang orang yang tidak takut pada kematian secara fisik. Injil Yohanes 14:1-2 berbunyi: “janganlah gelisah hatimu, percayalah pada Allah” dilanjutkan dengan “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu.”. Ayat ini seringkali dipakai oleh umat sebagai dasar untuk berani mati,

Melihat mentalitas orang “berani mati”, sering memunculkan rasa kagum. Namun mari kita kritisi mentalitas “berani mati” ini. Orang yang berani mati, -bisa jadi- adalah: orang yang mementingkan dirinya sendiri, putus asa, tidak dapat memaknai hidup dari Allah dan sudah bosan menjalani kehidupan. Iman Kristen tidak pernah bicara soal keberanian untuk mati. Iman Kristen selalu berbicara tentang keberanian untuk hidup. Orang yang berani hidup adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan yang diberikan Allah. Orang yang berani hidup, berarti juga siap berjuang dan berkorban. Lebih lengkapnya, keberanian berkorban demi memperjuangkan nilai-nilai kehidupan seperti yang telah dikerjakan Yesus. Murid yang bernama Filipus ingin mengetahui jalan menuju tempat Bapa, agar dapat bersama dengan Yesus. Ketika Filipus bertanya, Yesus memberikan teguran pada para murid karena setiap hari mereka hidup bersama dengan Yesus, namun masih belum memahami pengajaran Yesus (ay.9). Kemudian Yesus menjawab keraguan para murid dengan memberi penjelasan di ayat 10-11. Yesus berusaha mengajak para murid percaya kepada Bapa, melalui Yesus atau setidaknya percaya melalui pekerjaan yang telah dilakukan Yesus. Setelah memberi penjelasan, Yesus memberi penegasan bahwa seseorang dapat dikatakan percaya kepada Yesus bukan ketika seseorang tersebut mengikuti Dia saja, melainkan jika melakukan pekerjaan yang dilakukan Yesus semasa hidup-Nya (ay.12).

Teguran Yesus pada murid saat itu ditujukan untuk umat di masa kini juga. Di tengah rasa bosan dan putus asa karena pandemi yang tak kunjung usai, Yesus mengajak para murid di masa kini untuk terus berani hidup. Berani hidup artinya berani memperjuangkan kehidupan diri sendiri dan juga orang lain. Berani hidup berarti berani berkorban untuk melakukan pekerjaan Allah. Jelas melakukan pekerjaan Allah bukan suatu hal yang ringan. Yesus memahami hal ini, maka Yesus berjanji akan mengirimkan seorang penolong yang lain untuk mendampingi dan menguatkan para murid. Sangat manusiawi, jika saat ini kita merasa berat dan bosan menjalani hidup. Tetapi, bukan berarti rasa berat dan bosan menjalani hidup itu menggerogoti semangat hidup dan menghilangkan daya kreatif. Di tengah rasa berat ingat janji Yesus yang akan memberikan penolong untuk menguatkan di masa kini. Beranilah untuk menghadapi dan menjalani kehidupan, karena Ia yang setia akan memampukan kita.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus