BERAGAMA SERSAN: SERIUS TAPI SANTAI!

Konon, Yesus dan murid-muridNya ditolak ketika mereka hendak mampir ke desa orang Samaria. Murid-murid Yesus sangat marah terhadap penolakan itu. Apalagi, murid-murid Yesus, penganut Yudaisme totok, memang sangat membenci orang Samaria. Kebencian ini warisan teologis yang fundamentalistik-radikalis. Teologi kebencian terhadap umat beragama atau terhadap umat yang berkepercayaan lain selalu ada dimana-mana. Bahkan, di kalangan Kristen pun masih ada teologi kebencian seperti ini. Kebencian mereka dijustifikasi oleh ayat-ayat suci agama. Merespons penolakan itu, murid-murid Yesus berniat membakar dan membinasakan penduduk desa Samaria itu. Mereka duga Yesus akan mendukung niat itu. Mereka salah! Yesus justru menegur mereka. Kalau pakai bahasa anak muda Jakarta kira-kira Yesus berkata begini:” Gue ga pernah ngajarin loe lakukan kekerasan kepada siapa pun, awas aja bila loe pake nama Gue untuk lakukan kekerasan…

Memang, agama tidak boleh menjadi alat kebencian dan permusuhan terhadap siapa pun, termasuk terhadap orang yang memusuhi kita. Sebaliknya, agama harus menampilkan diri sebagai pembawa damai bagi siapa pun, dan pembawa keceriaan bagi penganutnya. Seharusnya agama membuat penganutnya gembira dan senyum ceria kepada siapa pun. Beragama itu santai dan seharusnya melegakan karena kita dicintai dan diterima oleh Tuhan. Orang yang diliputi oleh cinta pasti santai dalam pengertian hatinya selalu gembira. Jadi, beragamalah dengan fun! Beragama yang membuat kita makin ramah, bukan marah. Beragamalah yang bikin semua enak, bukan enek!

Meski fun, beragama juga harus serius karena orang beriman selalu berada at the cross roads, selalu berada di persimpangan. Dalam setiap kejadian dan peristiwa, kita sering harus memutuskan jalan mana yang kita pilih. Apakah mengambil jalan yang mengikut Tuhan atau kita mengambil jalan mengikuti ego dan kepentingan diri sendiri. Sering kita harus memilih sekarang juga. Now! Pilihan itu berat karena pilihan mengikut Tuhan sering malah menuju jalan penderitaan. Itulah sebabnya, pilihan apa pun menunjukkan kadar loyalitas dan integritas kita. Pilihan dan respons terhadap satu masalah akan menunjukkan apakah kadar iman kita ini emas murni atau emas palsu. Nah, saat para murid yang marah memilih untuk membinasakan penduduk di desa Samaria, jelaslah kadar iman mereka itu emas palsu, bukan emas murni. Itulah sebabnya, Yesus menegur mereka!

Kemudian Yesus katakan “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dengan mengatakan seperti ini jelaslah bahwa Yesus tidak menjanjikan situasi comfort zone bagi pengikutNya. Tidak ada janji keuntungan duniawi. Jadi, bila ada yang mau mengikut Yesus demi memperoleh pangkat atau jabatan pasti kecewa. Yang mengikutiNya demi kekayaan, kehormatan atau popularitas itu seperti pepatah ada udang di balik batu. Orang ini pasti bakal frustrasi. Bila mengikut Yesus dengan motivasi keuntungan, sesungguhnya kita tidak pernah tulus mengasihi Yesus. Kita justru lebih mengasihi ego dan kepentingan kita. Orang-orang seperti ini akan, seperti Yudas, mudah meninggalkan dan menyangkalNya saat mengetahui tidak memperoleh keuntungan apa pun. Sebaliknya, orang yang mengikut Yesus dengan tulus tidak akan pernah mempersoalkan untung atau rugi. Baginya yang terpenting mengikuti Yesus. Tok! Mereka ini tulus karena mereka mengalami sendiri betapa Yesus sudah lebih dulu mencintai dan menerima mereka apa adanya.

Sebagai pengikut Yesus kita harus mulai mengkaji diri sendiri: apakah kita mengikutiNya karena kita memiliki motivasi duniawi atau karena kita memang tulus mengasihi dan mencintaiNya? Moga kita bisa selalu meluruskan motivasi kita dalam mengikutiNya dan kita bisa katakan kepadaNya “Tuhan, aku ingin mengikut Engkau karena aku sungguh-sungguh mengasihiMu…

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty