BAD RELIGION: NOKTAH AKHIR TAHUN!

Natal kemarin memunculkan paradoks. Saat umat Kristen berlimpah kebahagiaan natal, muncul berita buruk dari Lampung dan Pasuruan. Di Lampung muncul segerombolan orang, lengkap dengan berbagai simbol agama tertentu, mendatangi rumah ibadah, lalu dengan mengumbar kemarahan memaksa untuk membubarkan ibadah natal yang sedang berlangsung. Di Pasuruan kasusnya sedikit berbeda. Sekelompok orang muncul mendadak. Mereka marah dan mengeluarkan kata-kata kotor dan mengancam beberapa umat Kristen yang sedang berbagi ‘sedekah’ natal untuk menghentikan kegiatannya itu. Memang, jelang natal umat Kristen selalu berbagi kasih kepada siapa pun, terutama kepada yang berkekurangan. Kebiasaan ini sudah mentradisi. Diharapkan berbagi ini menjadi habit yang dilakukan setiap saat. Tradisi saling berbagi ini mirip saat perayaan Idul Adha. Saat itu umat Islam didorong untuk berbagi dengan sesamanya. Ini momen indah! Terlepas dari itu, dua peristiwa di atas telah menjadi noktah dan noda bagi bangsa di akhir tahun 2021.

Sayangnya noktah itu terjadi di tengah membuncahnya rasa optimisme sebagian besar umat beragama terhadap relasi antar agama. Kita merasakan adanya upaya keras pemerintah untuk mensosialisasikan moderasi beragama. Melalui moderasi beragama, kita diajak bersikap realistis terhadap keragaman bangsa dan berupaya menyelesaikan persoalan apa pun melalui dialog yang rasional. Kita merasakan menurunnya tingkat ujaran kebencian, kekerasan, dan persekusi atas nama agama. Efeknya positif. Hampir seluruh gereja bisa merayakan natal dengan gembira. Mal dan pertokoan penuh hiasan natal. Lagu-lagu natal berkumandang di mana-mana. Natal menjadi perayaan universal yang menghadirkan sukacita. Sebagian besar orang ikut bergembira dan bahagia. Dan memang, kegembiraan dan kebahagiaan adalah kebutuhan kita. Kebutuhan ini melampaui sekat-sekat agama dan tradisi apa pun.

Meski demikian, harus diakui bahwa penghayatan terhadap agama dan tradisi keagamaan sering digunakan untuk membangun sekat-sekat yang kokoh. Agama dan tradisi bukan lagi menjadi alat untuk menghayati relasi cinta dengan Tuhan dan sesama, tetapi menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Agama pun menjadi sumber pemisah, pemecah-belah, dan instrumen untuk melakukan hegemoni dan eksploitasi terhadap sesama. Lalu, muncul penolakan terhadap realitas perbedaan. Berkembanglah nafsu untuk melakukan dominasi terhadap siapa pun yang berbeda. Saat tidak terkontrol, nafsu menghasilkan kemarahan, sumpah serapah dan aksi di luar batas kemanusiaan. Ujungnya marjinalisasi, eksploitasi, persekusi dan pembunuhan terhadap sesamanya. Inilah yang disebut ‘bad religion,’ ketika penghayatan agama justru membuat orang kehilangan kontrol diri. Rasa cinta, solidaritas dan kemanusiaan menjadi lenyap tidak berbekas. Celakanya, kecenderungan bad religion ini ada di semua agama dan menggerogoti spiritualitas sebagian umat beragama. Kecenderungan ini menjadi penyakit ‘kanker’ yang menghancurkan agama dari dalam dirinya sendiri.

Pertanyaannya adalah apakah ‘bad religion’ itu masih bisa disebut agama? Jawabnya ‘ya’. Bad religion itu tetap agama, paling tidak ia adalah penghayatan agama. Meski demikian bad religion adalah penghayatan agama yang mengekspresikan diri dan menghabiskan hampir seluruh energinya untuk menjadi budak dari nafsu ‘bablas,’ di luar kontrol. Nafsu untuk mengutuk, mencaci, membenci dan mempersekusi sesamanya. Memang, Bad religion mengubah manusia menjadi serigala terhadap sesamanya. Bertentangan dari ‘bad religion’ adalah ‘love religion’, agama cinta. Love religion mendorong umat untuk melatih diri dalam peperangan batin, di dalam diri sendiri. Kaum love religion selalu berjuang untuk mengontrol nafsu dalam diri sendiri. Kemenangan atas perjuangan itu memampukan mereka melampaui dirinya sendiri. Mereka tidak lagi melayani egoisme. Sebaliknya, mereka mempersembahkan hidup bagi sesama. Kaum love religion berjuang bagi keadilan, perdamaian, dan kebahagiaan semua orang.

Noktah sudah mewarnai akhir tahun 2021. Realistis saja karena noktah-noktah seperti itu selalu ada bersama kita. Meski demikian kita harus waspada agar noktah tidak membesar di masa mendatang. Dan yang terpenting, tetaplah berupaya keras mewujudkan love religion yang menghasilkan harapan, cinta, dan kemanusiaan. Tetaplah berpengharapan karena itulah yang menyelamatkan kita kini dan di tahun 2022.

Pecah Kopi
29 Desember 2021

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty