Apakah Anda Saudaraku

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus,

Orang Yahudi menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga, yakni hubungan yang terbentuk karena adanya ikatan/pertalian darah di dalamnya. Kita pun, yang dibesarkan dalam budaya timur, memiliki pandangan demikian. Hubungan darah dianggap lebih kental dibanding hubungan lain.

Namun Yesus seolah merendahkan nilai hubungan keluarga ketika Ia berkata, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Markus 3:33). Benarkah begitu? Tidak sepenuhnya. Yang Yesus maksud, meski hubungan keluarga penting, tetapi tidak membuat orang secara otomatis mengenal anggota keluarganya! Dan itulah yang dialami Yesus. Keluarga-Nya merasa prihatin melihat keadaan Yesus, yang begitu serius melayani orang banyak, sehingga makan pun tidak sempat! Mereka ingin agar Yesus memperhatikan diri-Nya juga! Tetapi, sambil melihat orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, Yesus berkata, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” (Markus 3:34)

Yesus ingin memperluas paradigma kita tentang arti keluarga! Keluarga bagi-Nya adalah mereka yang berorientasi pada Allah! Yaitu orang-orang yang mendengar dan mementingkan kehendak Allah daripada dirinya sendiri! Orang yang memiliki prioritas seperti itulah, yang disebut Yesus sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, dan ibu-Nya (Markus 3:35).

Seringkali kita menyempitkan arti saudara pada mereka yang kita anggap membela dan memperhatikan keinginan kita semata, dan menganggap “bukan saudara” (orang lain) bagi mereka yang melakukan sebaliknya! Konco-isme (setia kawan/kolegialitas) memang perlu, tetapi makna “saudara” harus lebih luas dari sekedar itu, yakni mereka yang mau bersama-sama belajar, mendengar dan melakukan kebenaran Tuhan! Sebab orang-orang yang demikianlah yang akan membawa kita kepada kebenaran, dan bukan persengkokolan jahat atau menjerumuskan kita pada hal-hal yang keliru!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto