AKUKAH HAMBA-MU?

Ada makna yang ambigu saat menyebut kata “hamba” atau “pelayan”. Apalagi jika disandingkan dengan kata “Tuhan” atau “Allah”. Hamba Allah atau pelayan Tuhan sepintas terasa sangat rendah hati, bahwa Tuhanlah yang menjadi Tuan dan kita hanyalah hamba atau pelayan-Nya. Menjadi hamba atau pelayan merupakan perintah Allah sendiri. Firman Tuhan memerintahkan untuk “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, seperti yang tertulis dalam kitab Filipi 2:5. Tuhan tidak “jaim”, ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Namun disaat yang sama, pengenaan istilah hamba Allah atau pelayan Tuhan justru menempatkan seseorang di posisi lebih tinggi dari yang lainnya. Ia merasa sebagai seorang hamba atau pelayannya Tuhan, maka ia menganggap dirinya wakil Allah yang berhak mendapat penghargaan atau penghormatan seperti Tuannya. Keistimewaan dan kekhususan seringkali diminta sebagai konsekuensi dari posisinya sebagai hamba Allah atau pelayan Tuhan tersebut.

Maria adalah satu-satunya wanita yang terpilih dan mendapat kasih-karunia Allah yang sangat istimewa untuk melahirkan sang Messias. Tetapi pada sisi lain, kasih-karunia dan berkat Allah yang istimewa tersebut sebenarnya dapat membawa Maria kepada situasi yang sangat berbahaya. Siapa yang tahu bahwa waktu itu Maria mengandung dari Roh Kudus. Masyarakat hanya tahu bahwa Maria saat itu belum menikah, tepatnya dia baru dalam status bertunangan, sehingga peristiwa kehamilan Maria akan menjadi suatu persoalan besar. Tetapi ternyata Maria menjawab berita dari Malaikat Tuhan tersebut dengan kerendahan hati dan sikap iman yang luar-biasa. Dia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38). Maria yang masih muda-belia itu memposisikan dirinya selaku hamba Tuhan dan menempatkan kehendak Allah di atas segala-galanya. Dia menyambut kehendak Allah tersebut dengan hati yang tulus, walaupun dia menyadari bahwa ketaatannya dapat berakibat buruk. Dia lebih menonjolkan ketaatannya yang mutlak dan siap menanggung risiko asal kehendak Allah terlaksana.

Saat manusia berlomba mencari penghormatan dan pengakuan dunia, Maria justru fokus pada Allah. Bagaimana dengan kita? Dibalik pertanyaan “akukah hamba-Mu?” jawaban dan sikap seperti apa yang sebenarnya ingin didapatkan?

 

Oleh : Pdt. Esther S. hermanus