YESUS vs PONTIUS PILATUS
Dalam Matius 27:11-54, kita melihat dua sosok yang berdiri berhadapan—Pontius Pilatus dan Yesus Kristus. Keduanya menunjukkan dua cara yang bertolak belakang dalam memandang kemuliaan.
1. PONTIUS PILATUS
Pilatus adalah representasi dari kemuliaan dunia. Sebagai gubernur, ia memiliki segalanya: kuasa atas hidup dan mati seseorang; tentara yang besar, dan prestise dari Kekaisaran Romawi.
Pencapaian yang diperoleh Pilatus merupakan dambaan banyak orang. Jabatan tinggi, reputasi yang baik, dan tentu sanjungan serta pujian dari banyak orang. Namun, apakah reputasinya murni dari perjuangannya menyatakan kebenaran, atau hanya berdasarkan pengakuan manusia? Mari kita lihat dengan teliti.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, baik ke para imam, dan tua-tua, dan mengkonfrontasikannya kepada Yesus, Pilatus mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah (ay. 18, 24). Mestinya ia membebaskan Yesus! Namun, ketika massa berteriak “salibkan Dia!”, apa yang ia lakukan? Ternyata ia lebih takut pada kerumunan orang banyak daripada kebenaran. Akhirnya, Pilatus menjatuhkan vonis mati terhadap Yesus.
Mengapa? Bagi Pilatus, Yesus hanya sebagai alat untuk mempertahankan reputasi. Untuk apa bicara kebenaran jika itu merugikannya. Integritasnya sebagai menjaga kedudukannya, yang tanpa disadari, ia menjadi budak opini publik.
Setelah menjatuhkan vonis mati kepada Yesus, Pilatus mencuci tangan. Dengan mencuci tangan, Pilatus mencoba menjaga reputasinya tetap “bersih” tanpa mau memikul tanggung jawab. Ia ingin tetap menjaga kemuliaan dirinya.
Apa yang dilakukan Pilatus ini disebut “Fragile Grandiosity” (Keagungan yang Rapuh). Di balik penampilannya yang begitu berkuasa, ia sebenarnya tersudut oleh keadaan, ia merasa cemas dan tidak aman (insecurity).
Hasil Akhirnya: Segala upaya yang dia lakukan demi menjaga nama baiknya, namun sejarah mencatat namanya ditulis dengan tinta merah. Ia dianggap telah gagal membela kebenaran.
2. YESUS KRISTUS
Di hadapan Pilatus, Yesus terlihat kalah. Ia dibelenggu dan menjadi pesakitan. Dalam keadaan seperti itu, Ia tidak membela diri, Ia diam (ay. 12-14), dan akhirnya disalibkan. Namun, di sinilah letak kemuliaan-Nya.
Yesus diam sekalipun dituduh telah menista agama. Ia tetap diam bukan karena Ia tidak punya kuasa. Sebagai tokoh yang memiliki pengaruh luar biasa, bisa saja Ia meminta semua pengikut-Nya untuk membebaskan-Nya namun tidak diakukan-Nya. Mengapa? Ia tidak membutuhkan validasi manusia. Kemuliaan-Nya tidak bergantung pada apakah orang memuji-Nya atau menghina-Nya. Ia tahu siapa Diri-Nya di hadapan Bapa.
Memang dunia selalu melihat salib sebagai kehinaan. Orang yang dianggap lemah, miskin, dan tak berdaya adalah pupuk yang subur bagi sebagian orang untuk populer dan berkuasa. Tetapi Matius mencatat bahwa saat Yesus mati, tabir Bait Suci terbelah, terjadi gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah (ay. 51). Alam semesta mengakui kemuliaan-Nya saat Ia menyelesaikan karya keselamatan.
Hal yang ironis terjadi: bukan Pilatus atau para pemuka agama yang melihat kemuliaan itu, melainkan kepala pasukan Romawi yang berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (ay. 54). Kemuliaan Allah sering kali tersembunyi di balik penderitaan. Saat kita merasa “mati” terhadap impian atau ego kita, di situlah kuasa kebangkitan Allah mulai bekerja.
RELEVANSI BAGI KITA
- Jangan mengejar apa yang dianggap mulia oleh dunia jika itu harus mengorbankan integritas dan iman kita. Mungkin ada orang yang berkompromi dengan mengabaikan integritasnya demi validasi: pengakuan, pujian, keuntungan. Namun, semuanya hanyalah semu. Yesus adalah teladan bagi kita. Ia tetap taat kepada Bapa sampai akhir.
Karena itulah, Paulus memberikan refleksi yang luar biasa : Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2 : 8 – 11). - Percayalah pada kedaulatan Allah, bahkan saat situasi tampak seperti “kekalahan”. Tetaplah hidup dalam kebenaran Tuhan sekalipun Anda harus menderita. Sebab di balik “salib”, selalu ada kebangkitan. Di balik penderitaan, selalu ada “kemenangan”. Ada pepatah mengatakan: kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
- Melihat keindahan dalam salib. Belajarlah untuk melihat bahwa kesuksesan di mata Tuhan seringkali dimulai dengan kerendahan hati dan pelayanan yang tidak terlihat oleh manusia.Contohnya adalah Corrie ten Boom, seorang wanita Kristen dari Belanda yang menolong orang Yahudi selama Perang Dunia II. Ia akhirnya ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi Nazi. Di kamp, ia kehilangan ayah dan saudara perempuannya. Secara manusia, ini terlihat seperti kekalahan total—kehilangan keluarga, kebebasan, bahkan masa depannya. Namun setelah perang, Corrie justru menjadi penginjil yang membawa pesan pengampunan ke seluruh dunia, bahkan mengampuni salah satu penjaga kamp yang dulu menyiksa mereka.
PENUTUP
Dalam hidup, kita sering diperhadapkan pada pilihan antara mengikuti keinginan dunia atau taat pada kehendak Allah Bapa. Alkitab memperlihatkan bahwa sekalipun Yesus dihinakan, tetapi Ia tetap teladan kita karena telah taat sampai akhir.
Hari ini, kemuliaan mana yang sedang kita kejar? Apakah kita mengejar tepuk tangan manusia yang sementara, atau perkenanan Tuhan yang kekal?
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” — Matius 23:12.
Oleh : Pdt. Wee Willyanto
- S Prev
- s


Got something to say?