Tahun Baru, Tahun Action
Selama bertahun-tahun, gereja terlalu sibuk berkata-kata. Mimbar dipenuhi retorika, ramai slogan, banjir janji, dan kalender gerejawi penuh tema-tema indah. Tidak jarang kata-kata rohani itu berubah menjadi janji ilusi kemakmuran. Iman pun menjadi jalan pintas bagi umat yang ingin meraih sukses, kekayaan, dan kenyamanan diri. Berbagai retorika indah itu sering menyentuh emosi. Kita pun merasa dekat dengan Allah. Tetapi, dekat dengan Allah itu bukan soal rasa, tetapi tindakan nyata. Ini kata Yesus.
Di balik limpahan kata-kata dan retorika itu, gereja sering abai memperlihatkan kebenaran melalui tindakan nyata, terutama kepada mereka yang terpinggirkan, dilupakan, dan tak bersuara. Padahal melalui tindakan nyata itulah kedekatan dengan Allah bukan lagi dirasakan, tetapi dialami.
Yesus tidak memuji kefasihan kata-kata atau janji-janji teologis gereja yang semakin berlimpah. Sebaliknya, Yesus memberi peringatan: ‘berhentilah berkata-kata, mulailah action: memberi makan yang lapar, menyambut yang asing, merawat yang sakit, mengunjungi yang terpenjara’ (Matius 25:31-46). Dalam action ini kamu sedang menyapa dan menjumpaiKu.
Di hadapan Yesus, kebenaran iman tidak diukur dari apa yang diucapkan, melainkan dari action, yang dilakukan. Di titik ini Hans Küng menggemakan kembali apa yang Yesus tegaskan. Dalam buku The Church Maintained in Truth, Küng ingatkan, iman yang berhenti pada kata-kata mudah tergelincir menjadi ideologi religius—indah di mulut, tumpul di tangan. Memang, bagi Yesus kebenaran bukan slogan yang dipertahankan, tetapi tanggung jawab etis yang dihidupi. Ketika gereja lebih sibuk menjual janji daripada memikul beban sesama, kebenaran kehilangan kredibilitas-nya.
Menuntut Keberpihakan
Penegasan Yesus menuntut bukan hanya tindakan, tetapi keberpihakan. Enrique Dussel ungkapkan dengan bagus kata-kata Yesus. Dalam Ethics of Liberation, Dussel menyatakan bahwa etika sejati lahir dari jeritan korban.
Ya, korban itu adalah: rakyat yang menderita akibat ketamakan kaum oligarki berhati serigala, mereka yang dirampas tanahnya, mereka yang kehilangan sanak saudara dan rumahnya akibat banjir bandang dengan gelondongan jutaan kubik kayu, dan generasi masa depan yang sulit bernafas saat hutan-hutan digunduli dan dikonversi menjadi tambang, perkebunan kelapa sawit dan tebu. Bencana banjir bandang di Aceh dan di Sumatera adalah bukti nyata kesalahan fatal kebijakan pemerintah. Kita tidak boleh membiarkan ‘blunders’ yang memenderitakan rakyat terjadi juga di Papua dan di daerah-daerah lain. Cukup sudah!
Tidak ada posisi netral di tengah ketidakadilan struktural. Diam atau sibuk beretorika adalah bentuk keberpihakan pada status quo. Apatisme adalah ketidakpedulian terhadap jerit dan tangis para korban.
Ucapan Yesus menunjukkan Allah berpihak kepada yang lapar, asing, sakit, dan terpenjara. Maka, berpihak pada mereka bukan pilihan opsional, melainkan konsekuensi iman kepada Kristus yang hadir melalui orang-orang yang miskin dan terpinggirkan. Gereja Katolik Roma menyadari panggilan itu, lalu menegaskan motonya: Preferential option for the poor! Komitmen teologis, sosial-etis dan pastoral kepada kaum yang menderita dan yang terpinggirkan.
Saatnya Action
“Tahun Baru, Tahun Action” adalah panggilan untuk pertobatan praktis. Cukuplah gereja menghamburkan kata-kata. Cukuplah retorika tanpa aksi. Kini saatnya kebenaran bergerak menuju kaum pinggiran. Kini saatnya cinta mengalir lembut menyentuh tubuh dan hati yang luka. Pulihkanlah martabat manusia dan alam raya ini. Sebab pada akhirnya, Kristus tidak menunggu di panggung retorika. Ia hadir di tempat tindakan kasih dilakukan.
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
- S Prev
- s

Got something to say?