5EMANGAT BANGKIT, 5ELAMAT BERDAMPAK

Hari ini, Minggu 18 September 2022, adalah hari jadi Gereja Kristen Indonesia Jalan Maulana Yusuf 20 Bandung (selanjutnya disebut GKI-MY) ke 55 tahun. Selama itulah Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja memimpin dan menyertai perjalanan pelayanan GKI-MY dalam melayani dan berkarya, dan tentunya penyertaan Tuhan akan terus terjadi ke depan. Kita patut bersyukur dan memuliakan-Nya. Lalu apa yang bisa kita maknai?

Pertama, kita tahu bersama bahwa tidak sedikit gereja yang mengalami colaps, bahkan belum mampu melakukan ibadah tatap muka maupun secara online karena sepinya pengunjung, sebagai dampak pandemi Covid. Kita bersyukur, GKI-MY termasuk gereja yang survive. Sekalipun terkesan lambat untuk membuka ibadah tatap muka karena pertimbangan kesehatan, antusiasme jemaat dan simpatisan yang ingin beribadah semakin hari semakin banyak. Karena itu, jam kebaktian pun bertambah, sekalipun belum kembali seperti dulu, dan jumlah pengunjung pun masih terbatas. Ada waktunya jam kebaktian akan kembali seperti semula, namun hidup kita tidak mungkin sama. Kita sudah harus mengubah pola hidup kita, termasuk dalam beribadah dan melayani.

Kedua, saat “kita” dirumahkan, dalam arti kita melakukan ibadah di rumah hanya dengan mengikuti ibadah secara live streaming, mengingatkan peran rumah sebagai “gereja”. Sekalipun saat ini secara terbatas kita sudah mulai beribadah secara tatap muka di gereja, namun kita harus ingat, bahwa pandemi telah menolong kita juga untuk menjadikan rumah kita sebagai gereja, bukan sekedar tempat tinggal. Semestinya di rumahlah terjadi persekutuan yang hangat antar anggota keluarga, dan kasih Tuhan dinyatakan, agar terjadi sikap saling mengasihi, care dan mengayomi satu sama lain.

Ketiga, gereja seakan disadarkan peran teknologi, terutama teknologi digital, yang menolong gereja untuk berkarya dan meningkatkan pelayanannya. Dan GKI-MY menyadari hal itu, sehingga membentuk Tim Digital Ministry sejak awal pandemi. Kunci pelayanan Digital Ministry tidak boleh terjebak pada digitalnya, karena itu hanyalah alat (tools), dan fokus harus pada ministry (pelayanan)nya. Melalui pelayanan digital ministry, jemaat dapat terbantu untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan di tengah kondisi hidup yang serba tak terduga dan rapuh ini.

Hari jadi GKI-MY ke-55 ini memang sarat makna. Anda bisa menambahkan hasil permenungan pribadi untuk gereja yang kita cintai ini. Mari kita doakan GKI-MY agar makin berdampak bagi sesama dan mendukung kesejahteraan bangsa. Ada pepatah, “Jangan bertanya apa yang bisa diberikan gereja untuk saya, tetapi bertanyalah kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk gereja yang makin berkarya dan menjadi berkat.”

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto