ESENSI BERAGAMA

Peristiwa Yesus mengacaukan halaman Bait Allah boleh dikata cukup kontroversial. Tuhan yang begitu pengasih tidak segan mengusir para pedagang dan penukar uang. Mengapa bisa begitu?

Tindakan Yesus tentu beralasan. Halaman Bait Allah yang seharusnya digunakan para peziarah Yahudi untuk beribadah, menjadi terusik dan tidak khusyuk. Bahkan mereka tidak punya tempat yang cukup untuk leluasa beribadah, belum lagi gaduhnya para pedagang dan penukar uang menjajakan dagangannya. Ini tentu ulah para pemimpin Bait Allah, yang ingin mengambil keuntungan dari kegiatan penjualan dan penukaran uang tersebut. Dengan aturan halal, para peziarah tidak diperkenannya membawa binatang yang akan dipersembahkan selain membeli di situ. Pantaslah kalau Yesus marah. Karena itulah, Ia ingin mengembalikan fungsi halaman Bait Allah agar lebih manusiawi dan orang yang beribadah akan merasa lebih khidmat.

Tindakan Tuhan itu langsung mendapat tantangan dari orang-orang Yahudi, yang tentunya punya kepentingan atas penjualan binatang dan penukaran uang. Bait Suci dianggap sebagai tempat yang paling tepat dan strategis untuk mengambil keuntungan yang banyak.

Kepada mereka, Tuhan balik menantang, agar merombak Bait Allah karena Ia akan membangunnya kembali dalam tiga hari. Yang dimaksud pembangunan Bait Allah itu adalah tubuh-Nya sendiri. Secara simbolis Tuhan Yesus memproklamasikan kedatangan-Nya yang membawa pembaruan dalam kehidupan beragama yang paling mendasar, yakni relasi kepada Allah dalam ibadah dan doa. Diri-Nya adalah Bait Allah sempurna, saat kehadiran Allah nyata dan melalui-Nyalah semua orang dapat berelasi dengan benar kepada Allah Bapa. Jadi, dari dua peristiwa di sini (memurnikan dan pembangunan Bait Allah), kita belajar tentang kehadiran Tuhan Yesus yang mentransformasi hidup sehari-hari dan juga ibadah.

Jika esensi beragama sejati adalah relasi yang diperbarui, dan relasi kepada Allah dan sesama manusia ditandai dengan kasih dan kepedulian maka perilaku umat beragama pun harus mengalami transformasi.

Beragama bukan sekedar melakukan rutinitas ritual, tetapi yang terutama, melalui ritual keagamaan, kita membangun relasi kasih dengan Sang Ilahi, sekaligus peduli kepada sesama.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto


No Replies to "ESENSI BERAGAMA"


    Got something to say?

    Some html is OK