SEKARANG WAKTUNYA
Aceh mengalami musibah besar, mestinya menghasilkan rasa iba. Namun, ternyata tidak demikian. Ada orang-orang yang masih berprasangka buruk. Bahkan terhadap setiap musibah yang terjadi, orang masih berprasangka buruk.
Orang Yahudi pun begitu. Bagi mereka, musibah yang menimpa orang-orang erat hubungannya dengan dosa-dosanya. Makin besar dosa seseorang semakin hebat pula musibah yang akan menimpanya. Jadi, musibah seolah semacam hukuman yang diberikan oleh Tuhan, tergantung seberapa besar dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Prasangka buruk seperti inilah yang hendak diluruskan oleh Tuhan Yesus.
Dalam Lukas 13:1-5, Tuhan Yesus menegaskan bahwa prasangka seperti itu bukan saja sempit, tetapi mutlak keliru. Jenis atau bentuk musibah bukanlah cerminan besar atau kecilnya dosa seseorang. Sebaliknya, Tuhan Yesus mengajak mereka yang tidak kena musibah untuk menilik diri sendiri. Sebab di hadapan Tuhan, orang-orang yang tak kena musibah pun sebenarnya orang berdosa juga, dan berpotensi mengalami penghukuman yang sama jika tanpa pertobatan.
Musibah yang dialami seseorang bisa dijadikan peringatan bagi mereka yang terluput, agar tidak mengeraskan hati dan tetap tinggal dalam dosanya maka yang terpenting bukanlah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang yang mengalami musibah, tetapi meresponsnya dengan memeriksa diri dan bila perlu bertobat. Gunakanlah kesempatan yang masih ada untuk segera bertobat karena belum tentu kesempatan itu terulang.
Melalui perumpamaan tentang pohon ara (Lukas 13:6-9), Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kesempatan untuk bertobat masih diberikan. Pohon ara yang tumbuh selama tiga tahun ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Permintaan untuk menebang pohon tersebut menunjukkan batas kesabaran si pemilik kebun yang telah menanti selama tiga tahun. Namun, pengurus kebun masih memohon kepada tuannya untuk bersabar menantikan pohon tersebut berbuah. Penggunaan kata “mungkin” di ay. 9 menunjukkan adanya harapan dan kesempatan lagi. Ini menunjukkan pentingnya pertobatan.
Perumpamaan tentang pohon ara tersebut merupakan lukisan yang tepat mengenai kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia untuk segera bertobat. Seluruh waktu yang masih diberikan sesungguhnya merupakan kesempatan yang terakhir, tidak akan ditambah lagi! Ini adalah demonstrasi kesabaran Allah yang paling akhir. Setelah itu pintu kesempatan akan ditutup selama-lamanya.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita bertobat? Kristus masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat, yang mungkin merupakan kesempatan kesekian kali yang diberikan pada kita. Saat Roh Kudus menegur kita lewat musibah orang lain, jangan keraskan hati melainkan responslah kesabaran hati-Nya dengan bertobat. Sebab jika kita masih menutup rapat pintu hati kita untuk pertobatan maka mungkin kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
Oleh : Pdt. Wee Willyanto
Got something to say?