RAIHLAH MASA DEPAN

Banyak orang ingin meraih masa depan, tetapi tidak sedikit yang melangkah ke depan dengan kompas yang rusak. Yohanes memulai Injilnya dengan menegaskan fondasi yang kokoh: “Pada mulanya adalah Firman.” Masa depan, menurut Yohanes, tidak dimulai dari ambisi manusia, melainkan dari Logos, makna terdalam yang mendahului segala rencana dan strategi.

Dalam bukunya ‘The Diary of a CEO,’ Steven Bartlett berkali-kali menyingkap paradoks modern: semakin canggih perencanaan, semakin rapuh jiwa manusia jika ia kehilangan tujuan yang bermakna. Banyak orang mengejar masa depan dengan target, angka, dan pencapaian, tetapi justru merasa hampa ketika target itu tercapai. Yohanes seakan mengingatkan: masa depan tanpa Firman adalah masa depan tanpa terang.

Kunci Kemajuan?
Bartlett menyebutkan satu hal penting yaitu bahwa orang-orang yang benar-benar maju dan berhasil adalah mereka yang punya intelektualitas dan skill. Tanpa intelektual dan skill orang tidak akan siap memasuki dunia kerja. Dengan demikian syarat penting untuk maju dalam dunia ini adalah dengan terus mengembangkan kapasitas intelektualitas dan skill kita. Belajarlah terus!

Menariknya, menurut Bartlett, intelektualitas dan skill saja tidak cukup! Orang harus membangun network yang kuat. Kita tidak bisa maju sendirian. Kita butuh orang lain. Lalu, apakah ini cukup? Lagi-lagi Bartlett katakan tidak cukup. Ada sesuatu yang paling penting yang orang harus miliki. Apa? Nilai-nilai inti yaitu nilai moral-spiritual yang selalu memandu mereka dalam pergumulan dan keputusan apa pun. Artinya, kita butuh Sang Terang untuk menuntun perjalanan hidup kita bukan saja untuk hari ini, tetapi juga untuk hari-hari ke depan.

Tabah Melangkah
Nah, Firman adalah nilai inti itu—sumber hidup yang membuat langkah ke depan tidak sekadar cepat, tetapi benar arah. Yohanes menulis bahwa terang itu bercahaya dalam kegelapan. Ini penting, sebab masa depan hampir selalu diselimuti ketidakpastian. Kita harus ingat bahwa ketakutan, kegagalan, dan rasa tidak cukup sering menyertai perjalanan menuju masa depan. Dan aspek-aspek itu sering menghambat kemajuan dan pertumbuhan kita. Kita harus ingat bahwa terang Tuhan selalu bekerja: bukan menghapus kegelapan, melainkan memberi keberanian untuk melangkah di tengahnya.

Alkitab berkata: “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14). Masa depan tidak diraih dengan melarikan diri dari realitas, tetapi dengan tabah melangkah menghadapi tantangan kehidupan bersama Sang Terang. Inkarnasi Allah adalah pesan harapan: Allah hadir di tengah kerapuhan kita dan dunia ini, dan dari situ masa depan dibuka.

Raihlah masa depan, bukan dengan kegelisahan dan keragu-raguan, bukan juga dengan ambisi kosong atau cita-cita tanpa upaya, tetapi dengan berjalan dalam terang Firman. Sebab masa depan yang sejati bukan sekadar apa yang kita capai, melainkan bagaimana reputasi kita di hadapan sesama dan di hadapan Sang Terang yang selalu menuntun kita.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "RAIHLAH MASA DEPAN"


    Got something to say?

    Some html is OK