MELIHAT TUHAN

Ada momen sangat menggetarkan saat Yohanes Pembaptis melihat Yesus mendatanginya. Yohanes yang diliputi kegembiraan dan kekaguman bersaksi, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Ungkapan hati Yohanes bukan sekadar pengenalan identitas Yesus, tetapi kesaksian rohani yang mengubah arah hidup banyak orang.

Yohanes melihat Yesus bukan hanya dengan mata jasmani, melainkan dengan mata iman. Ia mengenali Yesus, tetapi Yesus yang mulia itu tidak menampilkan diri dalam bentuk kekuasaan absolut yang super kuat untuk mengontrol dunia. Sebaliknya, Yesus hadir dalam kesederhanaan tetapi dengan misi penyelamatan yang menghapus dosa dunia.

Paradoks Hobbes
Jika peristiwa di atas dibaca dari perspektif Thomas Hobbes, kita akan rasakan paradoks yang tajam. Thomas Hobbes adalah filsuf Inggris abad pertengahan yang menulis buku terkenal berjudul Leviathan. Hobbes sangat pesimis terhadap manusia. Baginya, manusia diliputi rasa takut, saling curiga, dan harus berjuang mempertahankan dirinya. Dalam kondisi ini, manusia cenderung saling menyerang demi keamanan dan kepentingannya. Hobbes percaya agar tidak terjadi “perang semua melawan semua,” manusia membutuhkan penguasa kuat yang ditakuti. Penguasa yang mampu memaksa semua orang untuk tunduk pada hukum.

Dengan cara pandang ini, bagi Hobbes, penyelamat dunia haruslah sosok kuat, menakutkan, dan sanggup menundukkan kekacauan. Dunia yang dipenuhi dosa dan kekerasan membutuhkan Leviathan: kuasa besar yang mengendalikan manusia dari luar melalui aturan dan sanksi. Hobbes mengabaikan kenyataan bahwa di tangan penguasa absolut, hukum dibuat tidak adil dan menguntungkan para penguasa serta para anteknya. Teori Hobbes ini menjadi landasan otoritarianisme, penguasa dengan kekuasaan absolut yang korup, diskriminatif, tanpa kontrol, dan sewenang-wenang. Semua pemimpin dalam organisasi apa pun, baik sekuler dan agama, punya potensi bermental ’leviathan’. Mereka menjebak orang pada dosa idolatry (pengilahian terhadap penguasa). Pemimpin atau penguasa seperti ini adalah sumber masalah karena mereka menjadi penindas dan pelaku ketidakadilan bagi umat dan rakyatnya sendiri.

Yohanes Pembaptis punya pandangan yang berbeda dengan Hobbes. Yohanes Pembaptis tidak berkata, “Lihatlah Sang Penguasa kuat dan gagah perkasa yang akan menertibkan dunia.” Ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah.”

Anak domba bukan simbol dominasi, melainkan simbol pengorbanan, kelembutan, dan kerelaan melayani. Bagi logika Hobbes, ini sebuah paradoks. Dia tidak akan percaya bahwa dunia yang keras diselamatkan melalui jalan kerendahan hati dan kelembutan.

Justru di situlah kedalaman Injil. Masalah dunia bukan hanya kekacauan sosial yang bisa diatasi dengan hukum. Akar kehancuran manusia adalah dosa: kuasa yang merusak parah hati manusia dan menghancurkan relasi manusia dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Hukum dapat menahan perilaku tertentu, tetapi tidak menyembuhkan hati. Negara bisa menciptakan ketertiban, tetapi tidak bisa melahirkan kasih. Yesus datang bukan sekadar untuk mengontrol manusia, melainkan untuk membaharui manusia dari dalam, yaitu dengan menghapus dosa dunia.

Belajar dari Yesus
Pesan Alkitab jelas, janganlah terjebak menjadi pemimpin bermental ‘Leviathan’ versi Hobbes yang berhati beku, yang mengamankan hidupnya lewat kontrol dan kekuasaan absolut, korup, tanpa kontrol yang menindas dan mendiskriminasi orang lain. Jangan juga terjebak pada dosa idolatry terhadap pemimpin dunia.

Sebaliknya, jadilah pemimpin yang menempatkan Yesus, Sang Anak Domba Allah itu sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah sekaligus diteladani. Menyembah Yesus sebagai Tuhan berarti siap mengkritisi, dan bahkan menolak tegas segala kekuasaan duniawi yang absolut, diskriminatif, dan tidak adil. Meneladani kepemimpinan Yesus berarti bersedia menjadi pemimpin yang melayani dengan cinta dan ketulusan demi kebaikan dan penyembuhan dunia.

Yesus bukan selebrity yang ingin dilihat dalam kekaguman. Yesus justru mengundang kita dan dunia ini untuk dipulihkan dari dosa, dan mengalami keadilan dan perdamaian yang sejati.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "MELIHAT TUHAN"


    Got something to say?

    Some html is OK