MELEPAS KEHILANGAN
Setiap manusia pasti akan pernah mengalami yang namanya kehilangan, dan hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi dan diterima. Tentu saja, kehilangan di sini sering kali dikaitkan dengan kematian yang akan dialami oleh semua manusia. Namun, bagi sebagian orang ada kehilangan-kehilangan yang rasanya jauh lebih menyakitkan dari kematian. Misalnya saja, ada orang-orang yang kehilangan tujuan ketika apa yang selama ini ia telah kerjakan dan usahakan ternyata tidak membuahkan hasil yang baik. Ada juga yang kehilangan kepercayaan ketika orang-orang yang dianggap adalah orang-orang terdekat, tetapi justru berbalik dan menusuk dari belakang. Kehilangan juga dirasakan ketika badan yang selama ini sehat tiba-tiba menjadi lemah karena terserang penyakit ganas, dan masih banyak bentuk kehilangan lainnya.
Dalam kisah Yohanes 11:1-45, kita diajak masuk ke dalam pengalaman kehilangan yang sangat nyata melalui keluarga Maria, Marta, dan Lazarus. Ketika Lazarus jatuh sakit, mereka mengirim kabar kepada Yesus dengan harapan bahwa Ia akan segera datang dan menyembuhkan dia. Namun yang terjadi justru di luar dugaan: Yesus tidak langsung datang. Bahkan ketika Ia tiba, Lazarus sudah empat hari berada di dalam kubur. Di titik inilah kehilangan itu terasa begitu final—tidak ada lagi harapan menurut ukuran manusia.
Marta, ketika bertemu Yesus, mengungkapkan kekecewaan yang jujur: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Di balik kalimat ini tersimpan pergumulan yang sering kita rasakan juga. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi kita juga bertanya-tanya mengapa kok Tuhan seolah-olah terlambat. Mengapa Ia tidak bertindak dalam momen ketika kita sangat membutuhkan-Nya?
Ketika Maria datang dan menangis, suasana menjadi semakin emosional. Orang-orang di sekelilingnya juga ikut menangis. Menariknya, Yesus sendiri turut menangis. Ini hendak menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan bukan serta-merta meniadakan kesedihan. Maka, Yesus tidak menegur tangisan mereka, melainkan ikut merasakannya. Ia hadir bukan sebagai Pribadi yang jauh dan tidak tersentuh, tetapi sebagai Tuhan yang turut merasakan kehilangan dan keberdukaan.
Namun kisah ini tidak berhenti pada tangisan. Di depan kubur Lazarus, Yesus memerintahkan batu penutup itu disingkirkan. Sebuah perintah yang janggal, tetapi justru di situlah kuasa Tuhan dinyatakan. Yesus memanggil Lazarus keluar, dan ia yang telah mati itu bangkit kembali.
Peristiwa ini menjadi penegasan kepada kita semua bahwa Tuhan mampu bekerja bahkan di dalam situasi yang sudah kita anggap ’selesai’. Kehilangan yang kita alami—baik itu kehilangan orang yang kita kasihi, harapan, kepercayaan, atau kekuatan—tidak pernah berada di luar jangkauan kuasa-Nya.
Maka, “Melepas kehilangan” bukan berarti melupakan atau meniadakan rasa sakit, melainkan belajar memercayakan setiap kehilangan itu ke dalam tangan Tuhan. Di dalam kehilangan yang dialami oleh manusia, kita belajar untuk tetap bersandar kepada Tuhan, bahwa Ialah yang memegang seluruh kehidupan manusia. Pertanyaannya, apakah kita mau senantiasa datang dan bersandar kepada-Nya ?
Oleh : Pdt. Zeta Dahana

Got something to say?