KEMULIAAN DALAM KERENDAHAN

Kehidupan sering kali membuat kita terbiasa dengan semangat kompetisi. Dunia mendorong kita untuk menunjukkan yang terbaik, menjadi yang paling unggul, bahkan kalau bisa lebih dihargai daripada yang lain. Pola ini tidak hanya terjadi di dunia kerja atau lingkungan sosial, tetapi tanpa sadar juga masuk ke dalam kehidupan bergereja. Kita ingin dianggap yang paling aktif, paling setia, atau bahkan paling rohani. Tetapi Yesus dalam Lukas 14 menantang cara pandang seperti ini: siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Ketika Yesus duduk di perjamuan orang Farisi, Ia melihat para tamu berebut tempat kehormatan. Lalu Ia mengajarkan sebuah kebenaran yang melampaui sekadar sopan santun: kerendahan hati adalah jalan menuju kemuliaan sejati. Agustinus dari Hippo menegaskan bahwa akar dari segala dosa adalah superbia—kesombongan, yaitu keinginan manusia untuk meninggikan diri di atas Allah. Begitu pula dengan Andrew Murray yang mengatakan bahwa kerendahan hati, tempat (bagi) ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan, adalah tugas pertama dan kebajikan tertinggi makhluk, dan akar dari setiap kebajikan. Jadi kesombongan, atau hilangnya kerendahan hati ini, adalah akar dari setiap dosa dan hal jahat. Maka, jalan pertobatan sejati selalu dimulai dari kerendahan hati, karena di situlah kita mengakui bahwa hidup kita bersumber dan bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah.

Surat Ibrani menambahkan penekanan yang sangat praktis: kasih persaudaraan, keramahan, kepedulian terhadap mereka yang menderita, dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari. Dari sini kita bisa melihat bahwa iman yang sejati itu tidak sibuk mencari hormat, melainkan sibuk melayani sesama. Dalam semangat kemerdekaan iman, kerendahan hati tidak membuat kita berpusat pada diri sendiri, melainkan membebaskan kita untuk mengasihi dengan tulus kepada semua orang tanpa terkecuali.

Dalam keseharian, banyak yang salah mengira bahwa kerendahan hati itu sama dengan dengan rendah diri. Tetapi, kerendahan hati bukanlah sikap minder atau menolak tanggung jawab. Justru, kerendahan hati adalah keberanian untuk meletakkan hidup kita di tangan Allah dan membiarkan Kristus sendiri yang menjadi pusat. Orang yang rendah hati tidak berhenti berjuang atau berkarya, tetapi ia tahu bahwa semua keberhasilan adalah anugerah, dan segala hormat kembali kepada Allah. Inilah yang membuat kita bisa melayani tanpa pamrih, bahkan ketika tidak ada sorotan sekalipun.

Di tengah dunia yang mengukur nilai diri dari pencapaian, status, atau posisi, Yesus mengundang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: memilih tempat yang rendah, memberi tanpa mengharapkan balasan, melayani tanpa mencari nama. Sebab hanya di jalan inilah kita sungguh mengikuti teladan Kristus yang “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8) dan dari kayu salib itulah kita belajar bahwa kerendahan hati bukanlah kekalahan, melainkan pintu menuju kemuliaan sejati.

Kiranya renungan ini menolong kita berefleksi: apakah dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan, kita lebih sibuk mencari pengakuan, ataukah kita rela berjalan di jalan kerendahan yang ditunjukkan Yesus? Tetapi ingatlah panggilan-Nya, bahwa: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Amin.

 

Oleh : Pdt. Zeta Dahana


No Replies to "KEMULIAAN DALAM KERENDAHAN"


    Got something to say?

    Some html is OK