DIPULIHKAN DARI PAGUTAN DOSA

“Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?” Itulah ungkapan bangsa Israel kepada Musa yang dicatat dalam Bilangan 21:5. Setelah melalui berbagai tantangan yang ada, mereka kembali merasa muak untuk menjalani kehidupan di padang gurun. Kata-kata mereka dicatat oleh penulis Alkitab, bukan hanya sebagai sesuatu yang melawan Musa, melainkan juga melawan Allah sendiri.

Menanggapi keluhan tersebut, munculah ular-ular tedung yang memagut banyak orang Israel hingga menyebabkan kematian. Barulah kemudian bangsa Israel datang kepada Musa dalam penyesalan dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkannya ular-ular ini dari kami.” Jalan keluar yang kemudian diberikan Tuhan sangatlah unik. Alih-alih menyingkirkan langsung ular-ular itu, Tuhan menyuruh Musa membuat sebuah patung ular tedung dan menaruhnya pada sebuah tiang. Jikalau ada orang yang terpagut tetapi dia melihat patung tersebut, dia akan tetap hidup.

Dalam Injil Yohanes 3:14-15, Tuhan Yesus berkata, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Jika orang Israel yang ingin selamat dari pagutan ular di padang gurun diminta untuk memandang kepada ular tembaga, demikianlah Tuhan Yesus mengajak kita untuk juga memandang pada salib-Nya, supaya kita dapat mengalami kasih dan karya penyelamatan-Nya.

Hidup ini penuh dengan hal-hal yang dapat “meracuni” diri kita: kebencian, keegooisan, kemufanikan, ketidakadilan, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut berkeliaran di sekitar kita, bagaikan ular yang siap untuk memagut dan membawa kita pada kematian. Namun, pada salib Kristus kita dapat menemukan “penawar racun” kematian tersebut. Sebab, pada salib Kristus, ada cinta, kebenaran, pengurbanan, serta pengampunan. Menghayati Kristus yang memberi Diri-Nya bagi dunia, membuat kita dapat terus meyakini betapa berharga diri kita, betapa berharga sesama kita, bahkan betapa berharga segenap ciptaan lain. Mari hidup dalam karya pemulihan Allah. Mari senantiasa memandang pada Kristus yang menyelamatkan kita.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza