AYO MEMBERI, JANGAN MENCURI!

Ketika pandemi Covid-19 mulai terjadi di awal tahun lalu, marak terjadi masyarakat saling berebut masker. Sebagian oknum bahkan tega menumpuk masker agar dapat menjualnya kembali dengan harga yang tinggi. Demi kepentingan diri sendiri, ada saja orang-orang yang tega menyengsarakan orang lain. Tidak peduli bagaimanapun caranya, yang paling penting adalah dirinya bisa mendapatkan keuntungan lebih, lagi dan lagi.

Di sisi yang lain, saat kesulitan melanda, selalu ada orang-orang baik yang justru berpikir tentang bagaimana caranya agar mereka dapat memberikan bantuan kepada pihak lain. Misalnya, beberapa pemberitaan di televisi dan media sosial menceritakan tentang anak-anak yang menyumbangkan uang tabungan mereka untuk dibelikan alat pelindung diri (APD) medis. Di tengah situasi di mana banyak orang hampir kehilangan harapan, pemberian anak-anak tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti. Apa yang mereka lakukan mungkin sangatlah sederhana. Namun, dalam kesederhanaan tersebut terkandung ketulusan serta kerelaan memberi yang luar biasa. Itulah yang membuat tindakan sederhana anak-anak yang murah hati tersebut menjadi begitu “mahal” dan sangat berharga bagi kemanusiaan.

Di tengah kecenderungan untuk “mengambil dan menumpuk”, janda miskin dalam cerita Injil hari ini telah menjadi contoh tentang panggilan dalam memberi (Markus 12:41-44). Janda miskin tersebut tidak memberi dalam jumlah besar. Sebaliknya, ia memberi dalam jumlah yang sangat kecil. Namun, apa yang diberikan oleh perempuan tersebut menjadi sesuatu yang begitu bernilai di mata Tuhan Yesus. Ia memujinya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Saudara, apakah kesulitan hidup telah membuat kita mengabaikan kehendak Tuhan? Apakah situasi penuh keterbatasan akhirnya membuat kita bertindak tidak jujur, curang, bahkan mencuri apa yang bukan milik kita? Ingatlah, Tuhan sangat tidak berkenan terhadap segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, Allah sangat menghargai tindakan-tindakan yang memancarkan ketaatan serta kerelaan dalam memberi.

Mari kita melatih diri untuk berjalan dalam kewaspadaan serta sikap murah hati, sebab hidup kita pun merupakan pemberian Allah, Sang Pemurah.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza da Lopez