AGAMA CINTA
Yesus menggunakan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37) untuk menjungkirbalikkan harapan seorang ahli Taurat yang bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?”
Ahli Taurat bertanya, “Siapa sesamaku?” seolah-olah sesama itu bisa dipilih atau disaring. Tapi Yesus balik bertanya: “Siapakah yang menjadi sesama dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Dengan kata lain: bukan siapa yang layak kau tolong, tapi apakah kau sendiri siap menjadi sesama—bagi siapa pun.
Superioritas & Dominasi
Selama berabad-abad, spirit eksklusifisme agama dan etnik, serta kolonialisme telah menggunakan agama, termasuk Kekristenan, untuk menjustifikasi superioritas dan dominasi dalam relasi antar manusia: antara yang “beradab” dan “biadab”, antara “kita” dan “mereka”, antara yang mengaku “anak terang” dan yang dituding “anak kegelapan.”
Kisah Orang Samaria yang baik hati menolak logika dominasi dan superioritas. Orang Samaria dalam cerita ini adalah simbol dari yang tertindas, yang dianggap sesat teologi. Meskipun demikian justru orang Samaria yang bertindak lebih benar daripada imam Yahudi dan orang Lewi—dua tokoh religius resmi—yang minus empati dan cinta kasih, abaikan orang yang sedang menderita.
Yesus, melalui perumpamaan ini, menolak agama yang eksklusif-ritualis yang sering mati-matian membela dan mempertahankan kebenaran, tetapi mengorbankan kemanusiaan. Yesus mengecam agama yang mati rasa terhadap penderitaan sesama. Bagi Yesus, kasih adalah hukum yang tertinggi, bukan doktrin, ras, atau jabatan. Kekristenan adalah agama cinta yang hadir untuk melayani sesama, bukan menindasnya. Christianity must be a servant of the people, not a tool of oppression.
Dalam dunia yang mengagungkan dominasi dan superioritas, menjadi sesama adalah tindakan radikal. Ini bukan hanya menolong siapa pun yang membutuhkan bantuan, tetapi juga menggugat sistem sosial, hukum, dan teologi yang merendahkan martabat sesama yang berbeda agama, etnik dan status sosialnya. Menjadi sesama berarti meruntuhkan tembok identitas yang memisahkan antara “kita” dan “mereka.” Menjadi sesama berarti menggugat agama yang hanya menjadi penonton terhadap korban-korban penindasan dan ketidakadilan.
Gereja dipanggil bukan untuk menjadi lembaga eksklusif yang menjaga batas-batas kebenaran, melainkan komunitas yang bergerak menolong, mengangkat yang jatuh, dan mengubah sistem yang melukai. Kita diundang untuk melepaskan virus eksklusifisme agama dan warisan mentalitas penjajah yang sering tersembunyi dalam cara kita memandang orang lain yang berbeda keyakinan, kelas sosial, etnis, atau latar belakang.
Yesus tidak bertanya apa agamamu, siapa kelompokmu, atau di mana kamu beribadah. Ia bertanya: Apakah engkau menjadi sesama bagi siapa pun yang terluka, yang butuh pertolonganmu?
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
Got something to say?