PENGAMPUNAN YANG MENYELAMATKAN
Dalam Matius 18:21–35, Yesus menceritakan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar. Ia tidak sanggup membayarnya, tetapi kemudian tuannya menghapus seluruh hutangnya tersebut. Sebuah kisah yang sangat mengharukan, bagaimana pengampunan diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya.
Namun, suasana hari itu berubah ketika hamba itu bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Ketika temannya memohon supaya diberikan waktu untuk melunasi hutangnya, orang yang telah diampuni ini malah menolak dan memasukkannya ke dalam penjara. Sebuah ironi, ketika ia sudah menerima belas kasih, tetapi ia tidak mau meneruskannya kepada orang lain.
Kisah ini sesungguhnya juga membawa kita dalam sebuah realita kehidupan, bahwa kita mungkin mudah berbicara tentang pengampunan, tetapi belum tentu mudah pula untuk melakukannya. Sebaliknya, kita lebih senang untuk menilai dan menghakimi orang lain menurut standar kita sendiri
Harus kita akui, pengampunan itu memang tidak mudah. Seorang filsuf Perancis yang bernama Jacques Derrida menggambarkan pengampunan sejati sebagai sesuatu yang melampaui logika manusia, terutama ketika pengampunan diberikan kepada seseorang yang belum menunjukkan penyesalan. Maka, sesungguhnya kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Kita memohon kekuatan dari-Nya supaya dalam segala kelemahan diri, kita dimampukan untuk belajar dan berproses dalam mengampuni.
Di saat yang bersamaan, pengampunan adalah keputusan diri untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati kita. Ketika kebencian, kesakitan, dan kemarahan dipelihara, kita terus membawa luka yang tidak pernah sembuh. Ketika dendam menguasai, maka kita membiarkan masa lalu yang menentukan apa yang menjadi masa depan. Akibatnya, kita kehilangan ruang untuk mengalami damai sejahtera Allah di dalam hidup sehari-hari.
Mari kita melihat pengampunan yang dicontohkan oleh Yesus. Ketika Petrus menyangkal-Nya tiga kali, Yesus tidak menghancurkan Petrus dengan kesalahannya. Ia memulihkan dan mempercayakan tugas kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Ketika Yesus tergantung di atas kayu salib, Ia mau tetap mengampuni dan berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Melalui kematian-Nya di atas kayu salib, segala dosa-dosa kita pun diampuni. Manusia yang sesungguhnya tidak layak untuk berdiri di hadapan Allah, tetapi diampuni dan dilayakkan kembali. Pengampunan ini membuka pemulihan relasi antara Allah dengan manusia. Ia yang telah menginiasi terlebih dahulu, dan kita pun didorong untuk bisa belajar mengampuni kepada orang-orang yang bersalah dan berdosa terhadap kita.
Pengampunan sesungguhnya membuka jalan bagi pemulihan. Ketika kita mengampuni, kita belajar untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan, dan memilih untuk tidak dikuasai kebencian. Kita memang tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita dapat menyerahkan luka dan pergumulan itu kepada Kristus. Dalam penyerahan tersebut, kita belajar untuk mengampuni, dan hal tersebut membebaskan hati dari belenggu masa lalu dan memberi ruang untuk bisa berdamai dengan keadaan kehidupan sekarang ini, dan di masa yang akan datang.
Ingatlah, bahwa kita dipanggil untuk mengampuni karena kita telah lebih dahulu diampuni. Memang tidak mudah, terlebih ketika lukanya sudah demikian besar. Tetapi hanya lewat pengampunan sajalah, hati kita bisa dipulihkan dan diselamatkan. Amin.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana
- S Prev
- s

Got something to say?