MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN

Dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Pasal 1 disebutkan bahwa semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat serta hak-hak yang sama. Hal ini menegaskan bahwa esensi dari kehidupan manusia adalah memiliki kedaulatan penuh atas dirinya sendiri dan tidak boleh diinjak-injak oleh pihak lain. Namun, harus diakui bahwa sering kali kebebasan atau kemerdekaan tersebut tidak dihargai, bahkan dikesampingkan demi hasrat dan keserakahan orang-orang yang dianggap lebih berkuasa. Segala cara bahkan dapat dipakai untuk untuk mencapai keuntungan maksimal, meskipun cara-cara tersebut menyengsarakan banyak orang.

Maka, sekarang ini banyak orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya banyak manusia yang belum sungguh-sungguh merdeka. Kemerdekaan dan kebebasan itu sering kali dipahami sebagai sebuah teori atau wacana utopis belaka yang sangat jauh dan tidak bisa tercapai. Misalnya saja, seseorang dapat memiliki kebebasan secara hukum, tetapi tetap hidup dalam tekanan kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ada orang yang memiliki hak untuk berbicara, tetapi suaranya dibungkam dengan paksa. Ada masyarakat yang memiliki hak atas kehidupan yang layak, tetapi kebutuhan dasarnya sulit terpenuhi. Keadaan-keadaan seperti ini menunjukkan bahwa untuk mewujudkan kemerdekaan, dibutuhkan orang-orang yang mau bertanggung jawab bersama untuk menjaga martabat setiap manusia.

Dalam kehidupan sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memandang kehidupan kebangsaan sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Yesus berkata, “Setiap hari ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Yesus di sini sedang berbicara tentang kesediaan untuk memberikan diri kepada kehendak Allah. Karena itu, memikul salib dalam kehidupan kebangsaan berarti menghadirkan kasih, keadilan, kejujuran, dan kepedulian di tengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana kita memperlakukan sesama serta menyikapi persoalan yang terjadi di sekitar kita.

Di saat yang bersamaan, kita juga dapat mengingat bagaimana Rasul Paulus mengingatkan setiap jemaat untuk berdoa bagi semua orang, termasuk mereka yang memegang kekuasaan, supaya kehidupan bersama dapat berlangsung dalam ketenteraman dan kesalehan (1 Timotius 2:1-2). Kita diajak untuk tetap mendoakan para pemimpin agar memiliki hikmat, keberanian, dan hati yang takut akan Tuhan.

Marilah kita mengingat dan belajar bahwa kita semua dipanggil untuk memikul salib kebangsaan, yang juga berarti berani menolak kejahatan yang merusak kehidupan bersama, seperti tidak mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain, tidak menyebarkan kebencian, fitnah, dan kebohongan. Di tengah dunia yang mudah sekali memecah belah masyarakat karena perbedaan-perbedaan yang ada, kita dipanggil untuk menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat bagi setiap orang.

Oleh karena itu, kemerdekaan yang kita syukuri perlu dijaga melalui kehidupan yang bertanggung jawab. Sebagai warga negara dan sebagai murid Kristus, marilah kita memaknai kemerdekaan dengan senantiasa menghadirkan kebaikan di tengah bangsa. Tidak peduli seberapa pun kecilnya, marilah kita menjadi bagian dari perwujudan nyata karya Tuhan bagi bangsa yang terus membutuhkan kehadiran dan kasih-Nya. Amin.

 

Oleh : Pdt. Zeta Dahana


No Replies to "MEMIKUL SALIB KEBANGSAAN"


    Got something to say?

    Some html is OK