Tetap Teguh Saat Hati Hampir Remuk

Ove, seorang pria tua, tenggelam dalam kesedihan saat kehilangan istri yang dicintainya. Ove merasa hidupnya telah kehilangan arah. Ia berkali-kali mencoba mengakhiri hidup, tetapi setiap kali itu pula ada tetangga yang membutuhkan bantuannya. Perlahan ia menyadari bahwa justru ketika ia hadir bagi orang lain, luka di dalam dirinya mulai dipulihkan. Fredrik Backman mengangkat kisah Ove dalam Novel A Man Called Ove. Novel itu mengingatkan kita bahwa keteguhan bukanlah hidup tanpa air mata, melainkan keberanian untuk tetap mengasihi ketika hati hampir remuk.

Pesan yang sama bergema dalam Matius 14:13–21. Perikop ini diawali dengan sebuah tragedi. Yesus baru saja mendengar kabar bahwa Yohanes Pembaptis, saudara sepupu sekaligus pelopor pelayanan-Nya, telah dipenggal oleh Herodes. Wajar jika Yesus ingin menyingkir ke tempat sunyi untuk berduka. Namun, ketika ribuan orang mengikuti-Nya, Ia tidak menolak mereka. Sebaliknya, Injil mencatat, “Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.” Di tengah dukacita-Nya sendiri, Yesus memilih membangun solidaritas dengan mereka yang sedang lapar dan membutuhkan pertolongan.

Di sinilah letak keagungan kasih Kristus. Ketika manusia biasanya sibuk memeluk lukanya sendiri, Yesus justru membuka hati-Nya bagi penderitaan orang lain. Kesedihan tidak membuat-Nya menarik diri dari dunia, melainkan mendorong-Nya semakin dekat kepada mereka yang menderita. Keteguhan Yesus tampak bukan karena Ia tidak merasakan kehilangan, melainkan karena kasih-Nya lebih besar daripada luka yang sedang ditanggung-Nya.

Logika Kelangkaan Vs Solidaritas
Para murid melihat keadaan dengan logika kelangkaan (scarcity). Hari mulai malam, tempat itu sunyi, makanan hanya lima roti dan dua ikan. Solusi mereka sederhana: suruh orang banyak pulang. Sebaliknya, Yesus membangun logika solidaritas. Ia memulai bukan dari apa yang tidak dimiliki, melainkan dari apa yang masih ada. Lima roti dan dua ikan menjadi titik awal bagi Allah untuk menyatakan pemeliharaan-Nya. Mukjizat itu lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari kesediaan untuk berbagi di tengah keterbatasan.

Dunia kita hari ini juga sedang menghadapi berbagai bentuk scarcity : krisis ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, bencana ekologis, polarisasi sosial, bahkan kelangkaan perhatian dan kasih di tengah derasnya arus digital. Dalam situasi seperti itu, godaan terbesar adalah menyelamatkan diri sendiri, menimbun, dan mengabaikan sesama. Namun, Injil mengajarkan jalan yang berbeda. Jalan Kristus adalah jalan solidaritas. Justru pada masa krisis, manusia dipanggil untuk saling menopang, berbagi, dan menguatkan.

Kekurangan Menjadi Kecukupan
Mukjizat lima roti dan dua ikan menunjukkan bahwa harapan tidak lahir dari banyaknya sumber daya, melainkan dari hati yang rela berbagi. Ketika kita mempersembahkan apa yang sedikit kepada Tuhan dan membuka tangan bagi sesama, Allah sanggup mengubah kekurangan menjadi kecukupan. Di tengah dunia yang dipenuhi rasa takut akan kekurangan, gereja dipanggil menjadi komunitas solidaritas yang menghadirkan kasih Kristus. Sering kali, mukjizat Allah dimulai ketika seseorang yang sedang terluka tetap memilih mengulurkan tangan kepada mereka yang lebih menderita.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "Tetap Teguh Saat Hati Hampir Remuk"


    Got something to say?

    Some html is OK