Tetap Tegar Saat Allah Terasa Diam
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, penderitaan, dan krisis, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: mengapa kita harus tetap tegar, jika manusia pada dasarnya adalah makhluk yang rapuh?
Alkitab tidak pernah menutupi kenyataan bahwa manusia lemah. Pemazmur menyebut manusia seperti debu, sedangkan Paulus menyebutnya “bejana tanah liat” (2 Korintus 4:7). Kepada manusia yang rapuh itulah Yesus menyampaikan perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi (Matius 13:31–33). Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah sering kali bekerja secara kecil, tersembunyi, dan nyaris tidak terlihat. Karena itu, ketegaran bukan lahir dari kekuatan diri sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Allah tetap bekerja–bahkan ketika mata kita belum melihat hasilnya.
Pergumulan Pastor Rodrigues
Dalam novel Silence, Shūsaku Endō menampilkan pergumulan Pastor Sebastião Rodrigues. Ia datang ke Jepang dengan keyakinan bahwa ia akan menjadi saksi yang gagah berani. Namun, kenyataannya jauh berbeda. Ia menyaksikan umat Kristen disiksa dan dibunuh hanya karena mempertahankan iman mereka. Dalam situasi genting, ia berdoa memohon pertolongan-Nya, tetapi Rodrigues hanya merasakan keheningan. Seolah Allah apatis! “Mengapa Engkau diam, Tuhan?” jerit batinnya. Pada saat itulah ia menyadari betapa rapuhnya dirinya.
Puncak pergumulan imannya terjadi ketika pemerintah Jepang memberikan pilihan yang sangat dilematis. Beberapa orang Kristen digantung terbalik dalam lubang penyiksaan di hadapannya. Rodrigues melihat pancaran mata ketakutan saat penyiksaan itu merenggut nyawa mereka. Kepada Rodrigues disampaikan pilihan yang nyaris mustahil: jika ia menginjak gambar Yesus (fumie), orang-orang Kristen lainnya akan dibebaskan; tetapi jika ia menolak, mereka akan terus disiksa hingga mati.
Ketegaran imannya diuji: bukan sebagai keberanian untuk mati, melainkan keberanian untuk mengambil keputusan yang sangat sulit dan menyakitkan. Dalam pergulatan batin itu, Rodrigues berusaha mendengar suara-Nya. Di tengah keheningan, ia seakan mendengar suara Kristus berkata: “Aku datang ke dunia untuk ‘diinjak’ demi menyelamatkan manusia.” Rodrigues akhirnya menginjak fumie.
Mungkin di mata banyak orang, Pastor Rodrigues hina dan murtad. Endō membiarkan pembacanya bergumul dengan pertanyaan: mungkinkah kasih yang rela menanggung kehinaan demi menyelamatkan nyawa sesamanya justru merupakan bentuk kesetiaan yang paling dalam terhadap Kristus? Novelnya ini tidak memberikan jawaban pasti, melainkan mengajak kita merenungkan betapa beratnya harga sebuah kesetiaan.
Kichijiro adalah Kita
Berbeda dengan Rodrigues, Endō menghadirkan tokoh Kichijiro–seorang nelayan yang berulang kali menyangkal imannya demi menyelamatkan diri. Ia bukan tokoh yang gagah. Ia penakut, mudah jatuh, dan berkali-kali mengkhianati Rodrigues. Namun, setiap kali jatuh, ia selalu kembali mencari pengampunan.
Kichijiro mengingatkan kita pada Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali, tetapi kemudian dipulihkan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Barangkali Kichijiro justru adalah cermin yang paling jujur tentang diri kita. Kita tidak selalu setegar yang kita bayangkan; kita sering gagal, takut, dan berkompromi. Namun, kasih karunia Allah selalu membuka jalan bagi pertobatan.
Di sinilah letak kekuatan Injil. Ketegaran Kristen bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah ragu, atau tidak pernah jatuh. Ketegaran adalah keberanian untuk tetap datang kepada Kristus, sekalipun hati dipenuhi pertanyaan. Ketegaran adalah kesediaan untuk tetap percaya bahwa Kerajaan Allah sedang bertumbuh, meskipun saat ini baru sebesar biji sesawi dan bekerja senyap seperti ragi. Kita mungkin tidak melihat-Nya bekerja, tetapi bukan berarti Ia tidak hadir. Benih yang berada di dalam tanah tampak diam, padahal sedang bertumbuh. Ragi tidak terlihat, tetapi sedang mengembangkan seluruh adonan.
Benih yang Bertumbuh
Di tengah situasi seperti itu, gereja dipanggil menghadirkan kepemimpinan yang rendah hati dan penuh belas kasih, bukan kepemimpinan yang tergesa-gesa menghakimi pergumulan orang lain. Gereja membutuhkan para pemimpin yang menyadari kerapuhannya sendiri, serta berani mendengar dan memandang dengan ramah wajah-wajah yang ragu dan takut. Gereja butuh pemimpin yang bersedia berjalan bersama mereka yang mengalami kegagalan dan terluka batinnya, sambil terus mengingatkan bahwa Kerajaan Allah sering kali bertumbuh dan bekerja dalam keheningan.
Ketegaran orang percaya tidak terletak pada kekuatan dirinya, melainkan pada kesetiaannya untuk tetap berharap kepada Allah yang bekerja secara tersembunyi—sampai pada waktunya, benih itu menjadi pohon yang besar yang melindungi dan memberi kehidupan bagi banyak orang.
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
- S Prev
- s

Got something to say?