Saat Gereja Runtuh dari Dalam

Novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe sering dibaca sebagai kritik terhadap kolonialisme. Namun, jika dicermati lebih dalam, novel ini juga menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi gereja, organisasi, bahkan keluarga.

Achebe menunjukkan bahwa kehancuran sebuah komunitas tidak semata-mata disebabkan oleh tekanan dari luar, tetapi karena retaknya persatuan di dalam.

Tokoh Okonkwo adalah pemimpin yang tangguh, berani, dan disegani. Namun, dia membangun kekuatannya by force (dengan paksaan), di atas rasa takut, bukan kasih. Ia lebih memilih mengendalikan daripada mendengarkan, mengontrol daripada melayani, serta lebih mengutamakan wibawa daripada kerendahan hati.

Ketika masyarakatnya menghadapi perubahan besar, kepemimpinan yang keras seperti ini justru membangun jurang perpecahan. Pada akhirnya, bukan hanya Okonkwo yang jatuh, tetapi seluruh komunitas pun kehilangan daya untuk berdiri bersama.

Rapuh di Dalam
Gambaran ini menjadi cermin bagi banyak organisasi masa kini, termasuk gereja. Tidak sedikit organisasi yang tampak kokoh dari luar, tetapi sesungguhnya rapuh karena pemimpin lebih ingin mengontrol daripada menstimulate kreativitas. Organisasi dipenuhi pro dan kontra, kubu-kubu, serta persaingan. Setiap orang bicara sebagai lawan, bukan kawan.

Ketika setiap kelompok lebih sibuk memenangkan kepentingannya sendiri daripada mencari kebaikan bersama, racun polarisasi mulai bekerja. Sedikit demi sedikit kepercayaan memudar, dialog menghilang, dan semangat melayani digantikan oleh keinginan untuk menguasai.

Kekuatan untuk Melayani
Alkitab memberikan jalan yang berbeda. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak membiarkan perpecahan merusak tubuh Kristus. Kesatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama, melainkan memiliki hati yang sama untuk mengasihi Tuhan dan melayani sesama. Paulus katakan: “Supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10)

Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah soal menumpuk kekuasaan, melainkan memperbesar jiwa pelayanan: “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26).

Exists for Others
Teolog Jürgen Moltmann pernah menulis, “The church exists for others.” Gereja ada bukan untuk melayani nafsu pribadi atau ambisi kelompok tertentu, melainkan untuk menjadi tanda kasih Allah bagi dunia.

Ketika dalam gereja atau organisasi orang lebih sibuk mempertahankan kubunya sendiri daripada melayani sesama, ia mulai kehilangan panggilannya. Karena itu, ancaman terbesar bagi sebuah organisasi sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari hati para anggotanya sendiri.

Kepemimpinan yang otoriter, egois, dan memikirkan kepentingan diri sendiri sulit dikendalikan, dan polarisasi yang dibiarkan bertumbuh pun dapat menghancurkan apa yang telah dibangun selama puluhan tahun. Sebaliknya, kerendahan hati, semangat melayani, dan kesediaan untuk saling mendengar akan menjadi fondasi yang menjaga organisasi tetap utuh.

Belajar dari tragedi dalam novel Things Fall Apart. Jangan biarkan perbedaan berubah menjadi perpecahan. Jangan biarkan jabatan dan kekuasaan mengalahkan pelayanan. Dan jangan pernah lupa bahwa organisasi yang dipersatukan oleh kasih akan jauh lebih kuat daripada organisasi yang dipersatukan oleh rasa takut.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "Saat Gereja Runtuh dari Dalam"


    Got something to say?

    Some html is OK