BANGUNLAH BUDAYA APRESIASI
Salah satu kekuatan terbesar sebuah gereja bukan hanya terletak pada kualitas khotbah, kemegahan gedung, atau banyaknya program pelayanan, melainkan pada kemampuannya membangun budaya apresiasi.
Bangun Budaya Apresiasi
Apa itu budaya apresiasi? Kebiasaan saling menghargai dan memberikan pengakuan terhadap usaha, karya, atau kontribusi seseorang di dalam suatu lingkungan. Praktik ini bertujuan untuk membangun motivasi, memperkuat hubungan antarindividu, serta menciptakan atmosfer kerja yang positif dan suportif.
Sayangnya, budaya ini masih sering diabaikan. Tidak sedikit gereja yang lebih cepat mengoreksi kesalahan, tetapi lambat mengucapkan terima kasih. Ketika pelayanan berjalan baik, semuanya dianggap sebagai hal yang biasa. Tidak ada kata “terima kasih”. Tidak ada apresiasi. Namun, ketika terjadi kekeliruan, kritik keras dan tegas segera bermunculan.
Padahal, gereja adalah tubuh Kristus yang dibangun oleh banyak orang dengan karunia yang berbeda-beda. Rasul Paulus mengingatkan, “Karena itu hendaklah kamu saling menghibur dan saling membangun” (1 Tes. 5:11). Nasihat ini menunjukkan bahwa membangun sesama bukan hanya melalui pengajaran, melainkan juga melalui penghargaan, dorongan, dan pengakuan atas kesetiaan mereka dalam melayani.
Budaya apresiasi bukanlah sekadar sopan santun, melainkan bagian dari spiritualitas Kristen. Ucapan terima kasih yang tulus mampu membangkitkan semangat, memperkuat rasa memiliki, dan meneguhkan panggilan seseorang. Sebaliknya, pelayanan yang dianggap biasa dapat melahirkan ‘hectic’ kelelahan (burnout), dan menghilangkan sukacita dalam melayani bila tidak ada apresiasi sedikit pun.
Berkembang karena Dihargai
Salah satu cara paling efektif membangun organisasi adalah memberikan penghargaan secara tulus ketika seseorang melakukan sesuatu dengan baik. Menurut Blanchard dalam The New One Minute Manager, orang berkembang ketika mereka merasa dihargai, bukan terutama saat mereka dikoreksi. Saat dihargai, seorang merasa lebih percaya diri. Prinsip sederhana ini sangat relevan bagi kehidupan bergereja.
Rasul Paulus sendiri memberikan teladan yang indah. Dalam berbagai suratnya, ia berulang kali menyebut nama rekan-rekan pelayanannya dan mengungkapkan rasa syukur atas kesetiaan mereka. Ia memuji Timotius, Epafroditus, Priskila, Akwila, Febe, dan banyak pelayan lainnya. Paulus memahami bahwa pelayanan adalah kerja sama, bukan prestasi seorang tokoh.
Semuanya Penting
Karena itu, gereja perlu membangun budaya apresiasi yang nyata. Pendeta menghargai majelis, majelis menghargai komisi, komisi menghargai relawan, relawan menghargai karyawan, dan jemaat menghargai semua yang melayani. Semua saling menghargai. Tidak boleh ada yang merasa lebih penting dari yang lain; semuanya saling melengkapi.
Ucapan terima kasih, perhatian sederhana, kesempatan mengembangkan diri, maupun pengakuan atas dedikasi mereka merupakan investasi yang jauh lebih berharga daripada sekadar penghargaan seremonial. Di saat itulah, seseorang merasa dimanusiakan.
Pada akhirnya, gereja yang sehat bukanlah gereja yang bebas dari kekurangan, melainkan gereja yang dipenuhi orang-orang yang saling membangun. Ketika setiap pelayanan dihargai, setiap pengorbanan diakui, dan setiap orang diperlakukan sebagai bagian yang berharga dari tubuh Kristus, gereja akan menjadi komunitas yang memancarkan kasih Allah.
Budaya apresiasi bukan sekadar memperkuat organisasi gereja, tetapi menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sungguh hidup di tengah umat-Nya.
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
- S Prev
- s

Got something to say?