MUJIZAT DALAM KESENGSARAAN
Sengsara Membawa Nikmat adalah novel klasik karya Tulis Sutan Sati yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1928 oleh penerbit Balai Pustaka. Novel ini termasuk salah satu karya penting dalam sastra Indonesia angkatan Balai Pustaka.
Buku ini menceritakan kehidupan Midun, seorang pemuda yang saleh, jujur, dan baik hati, tetapi terus-menerus mengalami penderitaan akibat fitnah, iri hati, dan ketidakadilan. Ia difitnah oleh Kacak, dipenjara, dibuang, dan mengalami berbagai kesulitan hidup. Namun pada akhirnya, karena ketekunan, kesabaran, dan integritasnya, Midun memperoleh kebahagiaan dan kehormatan.
Pesan moral novel itu cukup jelas: kesengsaraan yang dijalani dengan kesabaran dan kebajikan pada akhirnya akan menghasilkan kebaikan. Namun, kita perlu berhati-hati karena tidak semua sengsara membawa nikmat. Pertanyaannya: apa yang Yesus katakan tentang hidup yang sering diliputi kesengsaraan?
Respons Yesus
Di negeri ini dimana para pemimpinnya paling rajin mengucapkan kalimat, “Rakyat adalah prioritas,” banyak ibu menghitung ulang isi dompetnya sebelum pergi ke pasar. Seorang ayah tersenyum kepada anaknya sambil berpikir tentang bagaimana membayar uang sekolah bulan depan. Seorang lulusan sarjana mengirim puluhan lamaran kerja dan menerima puluhan kesunyian. Ada petani yang demi proyek negara harus digusur dari tanah yang sudah ditinggali keluarganya selama ratusan tahun.
Sementara itu, di layar televisi, para pejabat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan tentang masa depan yang gilang-gemilang. Mungkin pertumbuhan itu memang ada, hanya saja sebagian rakyat belum menerima undangan untuk menikmatinya. Sebagian besar rakyat bahkan, semakin terjerat dalam kesengsaraan.
Lalu, bagaimana respons Yesus? Dalam Matius 10, Yesus tidak berkata, “Berbahagialah kamu karena harga kebutuhan pokok akan turun.” Ia juga tidak menjanjikan bahwa murid-murid-Nya akan terbebas dari kesulitan. Yang Ia katakan justru: “Jangan takut.” Sebab, seekor burung pipit pun tidak dilupakan oleh Allah.
Di sinilah gagasan sekaligus kritik Choan-Seng Song, teolog asal Taiwan, menjadi relevan. Ia mengingatkan bahwa Allah tidak tinggal di balik tembok-tembok kesalehan yang nyaman. Allah hadir dalam tangisan para ibu, kegelisahan buruh, keputusasaan masyarakat yang kehilangan tanahnya, dan kelelahan mereka yang terus bekerja tetapi tetap miskin. Menurut C.S. Song, bila gereja terlalu sibuk mengurus langit sambil menutup mata terhadap penderitaan di bumi, mungkin yang sedang dipertahankan bukanlah Injil, melainkan kenyamanan diri.
Sementara itu, M.M. Thomas, teolog Protestan asal Kerala, India, mengingatkan bahwa keselamatan tidak boleh dipisahkan dari pemulihan martabat manusia. Baginya, kesalehan yang tidak terusik oleh ketidakadilan yang mendatangkan kesengsaraan bagi sesama berisiko menjadi dekorasi moral: indah dipandang, tetapi tidak mengubah apa pun. Irrelevant!
Ironisnya, kita hidup di negeri yang sangat religius. Rumah ibadah penuh, ayat-ayat dikutip, doa dipanjatkan. Namun, kemiskinan tetap diwariskan, korupsi terus beradaptasi, dan ketidakadilan sering kali berjalan lebih cepat daripada belas kasih. Rupanya, lebih mudah membangun tempat ibadah daripada membangun kejujuran.
Mujizat Terbesar
Tetapi, di tengah kesengsaraan manusia oleh persoalan personal dan ketidakadilan struktural, Yesus berkata, “Jangan takut.” Kata-kata Yesus ini bukanlah ajakan untuk pasrah, melainkan panggilan untuk tetap menjadi manusia di tengah sistem yang kadang melupakan kemanusiaan. Sebab, iman yang sejati bukanlah kemampuan menjelaskan penderitaan, melainkan keberanian untuk berdiri bersama mereka yang menderita.
Dan mungkin, pada akhirnya, mukjizat terbesar bukanlah hilangnya kesengsaraan dalam semalam, melainkan lahirnya orang-orang yang menolak membiarkan sesamanya menanggung sengsara sendirian. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan. Oleh karena itu, gereja pun tidak boleh meninggalkan sesama di tengah isak tangis dan kesengsaraan mereka.
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
- S Prev
- s

Got something to say?