SEGALANYA MUSTAHIL, SAAT KITA MENYERAH
Gara-gara Yesus tidak pernah mengikuti pelatihan manajemen modern, cara Yesus mengelola murid-murid-Nya yang sedikit itu untuk melaksanakan tugas superberat sepertinya tidak realistis.
Bayangkan saja. Ia melihat begitu banyak persoalan. Kota dan desa penuh orang sakit. Banyak yang kehilangan harapan. Banyak yang hidup dalam ketakutan. Banyak yang bingung menghadapi masa depan. Kalau memakai bahasa sekarang, masyarakat sedang mengalami krisis multidimensi.
Lalu apa yang dilakukan Yesus?
Ia mengumpulkan dua belas orang.
Bukan dua belas gubernur.
Bukan dua belas menteri.
Bukan dua belas profesor.
Hanya dua belas murid yang sebagian besar bahkan tidak pernah dikenal sebagai orang-orang terpelajar.
Kalau peristiwa itu terjadi hari ini, mungkin akan ada yang bertanya: “Apakah ini cukup?”
Jawabannya jelas: tidak cukup. Secara hitung-hitungan manusia, memang tidak cukup. Segalanya nampak mustahil!
Tetapi anehnya, sejarah justru bergerak dari titik-titik yang sering dianggap tidak cukup.
Seorang guru memulai sekolah kecil.
Seorang ibu membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran.
Seorang mahasiswa menyelesaikan satu halaman skripsi hari ini.
Seorang aktivis menanam satu pohon.
Seorang pendeta mengunjungi satu keluarga yang berduka.
Kapan Kemustahilan Hadir?
Dunia jarang berubah karena satu langkah raksasa. Dunia berubah karena ribuan langkah kecil yang dilakukan dengan setia. Banyak hal yang dulu dianggap mustahil menjadi nyata.
Masalahnya, kita hidup di zaman yang mengagungkan hasil besar, tetapi meremehkan permulaan kecil. Padahal itu hal penting!
Kita melihat gunung, lalu merasa putus asa sebelum mulai mendaki.
Kita melihat panjangnya jalan, lalu frustrasi, dan memutuskan duduk saja di pinggir jalan.
Kita melihat besarnya masalah bangsa, lalu menganggap usaha kita tidak akan berarti apa-apa. Saat itulah kemustahilan mengendap di benak kita.
Padahal Yesus tidak pernah meminta murid-murid-Nya menyelesaikan semua persoalan sekaligus.
Ia hanya meminta mereka melangkah.
Pergi.
Melayani.
Memberitakan kabar baik. Tetapi, apa pun menjadi mustahil saat kita tidak berani melangkah.
Hal penting yang kita harus ingat: mulailah melangkah!
Kalau gagal? Belajarlah dari bangsa Jepang. Motto mereka: jatuh 7 kali, bangkit 8 kali. Nothing can stop them!
Mintalah Pertolongan-Nya
Dan yang menarik, Ia juga meminta mereka berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian. Seolah-olah Ia sedang berkata: “Jangan pernah mengira bahwa masa depanmu dan masa depan dunia ini bergantung sepenuhnya pada pundakmu.” Ayo mulailah berdoa, dan meminta pertolongan-Nya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi banyak orang yang sedang lelah, kalimat itu bisa menjadi kabar baik. Sebab sebagian dari kita sedang membawa beban yang terlalu berat. Kita khawatir tentang pekerjaan, keluarga, kesehatan, masa depan anak-anak, kondisi bangsa, bahkan keadaan dunia. Kita mencoba mengendalikan segala sesuatu sampai akhirnya kehilangan tenaga untuk mengendalikan diri sendiri.
Mungkin hari ini kita perlu belajar dari dua belas murid itu.
Mereka tidak memiliki semua jawaban.
Mereka tidak memiliki semua kemampuan.
Mereka tidak memiliki semua sumber daya.
Tetapi mereka tetap melangkah. Dan ternyata Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.
Indonesia hari ini memang sedang menghadapi banyak tantangan. Begitu pula banyak keluarga, gereja, komunitas, dan individu yang terdampak. Namun jangan biarkan besarnya tantangan membuat kita putus asa, lalu berhenti sebelum memulai.
Tidak ada yang mustahil bagi orang yang selalu mau melangkah maju. Tidak ada yang mustahil bukan karena kita kuat. Tidak ada yang mustahil karena Tuhan sering kali memilih bekerja melalui orang-orang yang merasa dirinya terlalu kecil untuk tugas yang mereka hadapi.
Karena itu, jika hari ini jalan di depan tampak terlalu panjang, jangan takut. Ambillah satu langkah. Jika satu langkah terasa berat, ambillah setengah langkah. Jika masih berat, berdirilah terlebih dahulu, lalu mulai menggeser maju ke depan kaki Anda. Sekecil apa pun, mulailah melangkah.
Sering kali mukjizat terbesar bukan terjadi ketika kita berhasil mencapai tujuan, melainkan ketika kita menemukan keberanian untuk mulai berjalan.
Oleh : Pdt. Albertus M. Patty
- S Prev
- s

Got something to say?