DARI MIMBAR KE PINGGIRAN

Ada paradoks yang kadang sulit dijelaskan di tengah kehidupan bergereja kita: ketika bangunan gereja makin tinggi, perhatian kepada manusia justru bisa makin rendah. Di banyak tempat—bahkan di wilayah yang rakyatnya hidup sederhana dan bergulat dengan kemiskinan—gereja dibangun megah, berlapis marmer, kursi mahal, pendingin udara modern, tata suara canggih, dan lampu yang nyaris menyerupai aula pertunjukan. Semua tampak indah, kecuali satu hal: di luar pagar gereja, masih ada orang lapar yang tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.

Tentu, tidak ada yang salah dengan membangun rumah ibadah yang layak. Persoalannya muncul ketika kemegahan gedung perlahan menggantikan pusat Injil: manusia. Ketika biaya interior disepakati lebih cepat daripada biaya pendidikan anak miskin, ketika renovasi altar dianggap lebih mendesak daripada mendampingi keluarga yang kehilangan pekerjaan, saat itulah gereja tanpa sadar bergerak semakin ke dalam dan kehilangan keberanian untuk keluar.

Melayani Kaum Pinggiran
Dalam Matius 9, Yesus justru menunjukkan arah yang berbeda. Ia tidak menunggu manusia datang kepada-Nya dalam keadaan sempurna. Ia mengambil inisiatif untuk menjumpai mereka yang dipinggirkan dan diabaikan: pemungut cukai yang dicurigai masyarakat, perempuan sakit yang dikucilkan selama bertahun-tahun, keluarga yang dirundung dukacita, dan orang-orang yang dianggap tidak lagi memiliki masa depan. Yesus tidak hanya sibuk di mimbar dan menjaga jarak demi kesucian simbolik. Ia mendekat ke arah mereka yang terlupakan demi pemulihan martabat manusia.

Barangkali inilah panggilan gereja di tengah krisis multidimensi (atau: multiple crisis) hari ini, ketika banyak orang hidup dalam stres, frustrasi, kecemasan ekonomi, kesepian sosial, bahkan merasa dirinya tidak penting. Ada begitu banyak manusia yang bukan hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga miskin perhatian, miskin penghargaan, dan miskin harapan. Mereka merasa dilupakan, diremehkan, bahkan dianggap beban. Mereka tidak tahu kepada siapa lagi harus mengadu.

Berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah berarti menghadirkan gereja yang bergerak keluar: menjumpai kaum miskin, mereka yang tinggal di dusun terasing, penyandang disabilitas yang kerap diabaikan, para lansia yang kesepian, dan siapa saja yang martabat kemanusiaannya perlahan terkikis oleh keadaan. Keselamatan dalam Injil bukan sekadar berbicara tentang hidup sesudah mati, melainkan tentang hidup yang dipulihkan hari ini, ketika seseorang kembali merasa dihargai sebagai manusia.

Karena itu, pertanyaan penting bagi gereja bukan pertama-tama seberapa megah gedung yang berhasil dibangun, melainkan: ketika Yesus berjalan di tengah kota dan desa kita hari ini, apakah Ia akan lebih merasa “di rumah” di dalam bangunan gereja kita, atau justru di luar temboknya, bersama mereka yang lapar, terluka, dan terlalu lama menunggu untuk dipedulikan?

Sebagai jemaat Tuhan, GKI Maulana Yusuf sangat sadar pada panggilan untuk berjalan bersama Yesus di lorong-lorong kota dan desa untuk melayani mereka yang terlupakan. Meski demikian, dalam situasi krisis di mana banyak orang semakin terpuruk, panggilan untuk melayani mereka yang terlupakan dan terpinggirkan di luar sana harus semakin ditingkatkan. Yesus hadir bukan saja di dalam gereja, tetapi juga di tengah keterpurukan kita dan sesama kita.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "DARI MIMBAR KE PINGGIRAN"


    Got something to say?

    Some html is OK