YESUS vs BARABAS : Pilihan Antara Kasih dan Kekerasan

Peristiwa pemilihan antara Yesus dan Barabas di hadapan Pontius Pilatus merupakan salah satu momen paling dramatis sekaligus simbolis dalam sejarah manusia. Narasi ini bukan sekadar catatan hukum kolonial Romawi, melainkan representasi kontras yang tajam antara dua ideologi, dua metode perjuangan, dan dua jenis kerajaan yang ditawarkan kepada umat manusia.

  1. Profil Kontras: Sang Mesias dan Sang Pemberontak
    Untuk memahami kedalaman konflik ini, kita harus melihat siapa kedua tokoh yang berdiri di depan massa tersebut:
    Yesus dari Nazaret: Sang Jalan Damai
    Yesus hadir sebagai sosok yang membawa narasi Kerajaan Allah. Perjuangan-Nya tidak menggunakan pedang, melainkan transformasi hati. Ia mengajarkan kita untuk mengasihi musuh dan ”memberikan pipi kiri saat pipi kanan ditampar.” Bagi penguasa Romawi, Yesus dianggap membingungkan karena Ia mengklaim sebagai Raja, namun tidak memiliki pasukan.
    Barabas: Sang Pejuang Radikal
    Nama “Barabas” (Bar-Abba) secara harfiah berarti “Anak Bapa”. Ia adalah seorang Zelot atau pemberontak yang terlibat dalam pemberontakan fisik melawan pendudukan Romawi di Yerusalem. Di mata rakyat yang tertindas, Barabas adalah pahlawan nasionalis, seorang figur yang berani menumpahkan darah demi kemerdekaan politis bangsanya.
  2. Paradoks Pilihan Rakyat
    Pontius Pilatus, yang menyadari bahwa Yesus tidak bersalah secara hukum, mencoba mencari jalan keluar melalui tradisi pembebasan tahanan pada hari raya Paskah. Namun, massa justru memilih Barabas. Mengapa?
    Standar yang Salah
    Rakyat mengharapkan Mesias yang datang sebagai penakluk militer (seperti Barabas) untuk mengusir penjajah. Yesus, yang membasuh kaki dan berbicara tentang pengampunan, dianggap gagal memenuhi standar “Pahlawan” yang mereka idamkan. Yesus tidak sesuai dengan harapan mereka.
    Mencari Solusi Cepat
    Barabas menawarkan solusi cepat melalui kekerasan, sementara Yesus menawarkan solusi jangka panjang melalui pertobatan. Kekerasan seringkali lebih menarik bagi mereka yang didorong oleh amarah dan keputusasaan.
  3. Teologi Pertukaran: Barabas sebagai Cermin Diri
    Salah satu makna terdalam dari peristiwa ini adalah Substitusi (Penggantian). Barabas adalah orang pertama yang secara fisik merasakan manfaat langsung dari pengorbanan Yesus.
    Barabas seharusnya mati di kayu salib hari itu karena kejahatannya. Namun Yesus, yang tidak bercela, mengambil tempat Barabas di kayu salib. Barabas berjalan bebas bukan karena ia benar, tetapi karena ada Pribadi yang menanggung hukumannya.
    Dalam konteks ini, Barabas adalah representasi dari setiap manusia. Kita adalah “Barabas” yang seharusnya memikul konsekuensi dari kesalahan kita, namun dibebaskan melalui pengorbanan Sang Mesias.
  4. Kesimpulan
    Konfrontasi antara Yesus dan Barabas adalah konfrontasi antara Kasih yang Berkurban melawan Kekerasan yang Menghancurkan. Massa memilih Barabas karena mereka lebih menginginkan perubahan situasi (politik) daripada perubahan karakter (spiritual). Namun, sejarah membuktikan bahwa gerakan kekerasan hanya akan melahirkan siklus dendam baru, sementara jalan kasih yang ditempuh Yesus mampu mengubah peradaban manusia hingga saat ini.
    Lalu, bagaimana narasi kuno ini relevan bagi kita yang hidup di zaman modern? Dalam mencapai tujuan (karier, keluarga, atau cita-cita), kita sering tergoda menggunakan cara-cara “Barabas”—tekanan, manipulasi, atau menjatuhkan orang lain demi hasil instan. Kita dipanggil untuk tetap menggunakan cara Yesus, yakni integritas dan kasih, meskipun prosesnya lebih lambat dan sulit.
    Rakyat memilih Barabas karena pengaruh provokasi para pemimpin agama saat itu. Di era informasi ini, kita harus bijak agar tidak mudah terseret arus opini publik yang seringkali mencari “kambing hitam” atau memuja figur yang menawarkan kebencian. Dengan kata lain, hindari mentalitas massa.
    Menyadari bahwa kita adalah “Barabas” yang telah dibebaskan seharusnya melahirkan rasa syukur. Rasa syukur ini diaplikasikan dengan cara memberikan pengampunan kepada orang lain, sebagaimana kita telah menerima pengampunan yang tidak layak kita terima.
    Sebaliknya, di tengah dunia yang penuh dengan konflik polarisasi, kita diingatkan bahwa solusi sejati tidak ditemukan dalam “pedang” atau kemarahan, melainkan dalam dialog, empati, dan pengorbanan diri untuk kebaikan bersama.

 

Pleh : Pdt. Wee Willyanto


No Replies to "YESUS vs BARABAS : Pilihan Antara Kasih dan Kekerasan"


    Got something to say?

    Some html is OK