ELI ELI, LAMA SABAKHTANI

Matius 27:46, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

PENDAHULUAN
Pernahkah Anda merasa berada di titik tergelap, di mana doa-doa seolah hanya memantul di langit-langit kamar? Di saat kehadiran Tuhan yang biasanya menenangkan, tiba-tiba terasa jauh dan senyap?

Jika ya, Anda tidak sendirian. Di atas bukit Golgota, dalam puncak penderitaan yang paling hebat, Sang Juru Selamat meneriakkan pertanyaan yang sama dengan yang sering kita simpan dalam hati: “Mengapa?”

DI BALIK SERUAN “MENGAPA”

  1. Kebebasan untuk Jujur
    Hal pertama yang kita pelajari dari seruan Yesus adalah kebebasan-Nya untuk jujur. Yesus tidak berpura-pura kuat secara emosional. Ia tidak menekan rasa sakit-Nya dengan stoikisme yang dingin. Ia berteriak.
    Sering kali kita merasa bahwa menjadi orang beriman berarti tidak boleh bertanya “mengapa” kepada Tuhan. Namun, Yesus menunjukkan bahwa iman dan pertanyaan bisa berjalan berdampingan. Kalimat “Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” tetap dimulai dengan kata “Allahku”. Artinya, meski dalam kegelapan, Yesus tetap memegang erat relasi-Nya dengan Bapa. Karena itu, kita tidak perlu merasa takut membawa luka dan kebingungan kepada Tuhan. Dia lebih tertarik pada kejujuran daripada kepura-puraan.
  2. Pertanyaan teologis yang muncul adalah: Mungkinkah Allah benar-benar meninggalkan Anak-Nya sendiri?
    Secara rohani, pada momen itu Yesus sedang memikul seluruh “sampah” dosa umat manusia. Allah yang Mahakudus tidak dapat berkompromi dengan dosa. Yesus harus merasakan kengerian “terpisah” dari Bapa—sebuah isolasi total yang seharusnya menjadi bagian kita—agar kita tidak perlu merasakannya secara kekal.
    Dia mengalami pengabaian supaya kita mendapatkan penerimaan. Dia merasa sendirian supaya kita memiliki janji: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
  3. Deklarasi Kemenangan
    Sebenarnya, ucapan Yesus itu mengutip baris pertama dari Mazmur 22. Kalimat ini merupakan kombinasi dari bahasa Ibrani (Eli, Eli) dan bahasa Aram (lama sabakhtani). Eli/Eloi: “Allahku”. Lama: “Mengapa”. Sabakhtani: “Meninggalkan aku”. Jika kita membaca Mazmur tersebut sampai akhir, nada ratapannya berubah menjadi nada kemenangan: “Sebab Ia tidak memandang hina sengsara orang yang tertindas… tetapi Ia mendengarkannya ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” (Mazmur 22:25).
    Dengan mengutip kalimat ini, Yesus sebenarnya sedang mendeklarasikan bahwa meskipun situasinya terlihat seperti kekalahan, kemenangan sudah dekat. Seruan “Mengapa” di Jumat Agung adalah jembatan menuju sorak-sorai di Minggu Paskah.

MAKNANYA BAGI KITA
Dalam setiap “Sabakhtani” (perpisahan) yang kita alami—entah itu kehilangan pekerjaan, ditinggalkan orang terkasih, atau kegagalan rencana—ingatlah dua hal ini:

  • Tuhan Mengerti: Yesus pernah berada di sana. Dia adalah Tuhan yang bisa berempati dengan rasa kesepian Anda.
  • Malam Pasti Berlalu: Seruan itu bukan kata terakhir Yesus. Kata terakhir-Nya adalah “Sudah Selesai” dan “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”.

Saat kita merasa Tuhan diam, ketahuilah bahwa Dia sedang bekerja di balik layar kegelapan untuk mendatangkan terang yang baru.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto


No Replies to "ELI ELI, LAMA SABAKHTANI"


    Got something to say?

    Some html is OK