MELEPAS DAHAGA
“Halah, kok jadinya kayak begini sih?” Mungkin ini yang ada di pikiran umat Israel ketika mereka dipimpin Allah keluar dari tanah perbudakan Mesir. Setelah bergenerasi menjadi bangsa budak, mereka awalnya sangat bersukacita karena Allah melalui perantaraan hamba-Nya Musa membebaskan mereka. Terlebih lagi, Allah memberikan tempat tanah perjanjian bagi umat Israel. Yang mereka perlu lakukan hanya pergi menuju tempat yang sudah Allah janjikan tersebut.
Namun, betapa kecewanya mereka ketika menyadari bahwa perjalanan menuju tanah perjanjian tersebut bukanlah perkara yang mudah. Mereka harus melewati daerah-daerah yang sulit dan ekstrem, termasuk padang gurun yang terkenal akan panasnya matahari dan kelangkaan air.
Mereka pun tidak tahan. Di tengah panasnya matahari yang menyengat kulit mereka, ditambah dengan rasa dahaga yang tidak tertahankan, mereka pun mengadu kepada Musa dan menyalahkannya karena telah memimpin mereka ke jalan yang penuh dengan penderitaan. Bangsa Israel tidak menyangka bahwa kebebasan mereka ternyata tidak semanis dan seindah yang mereka bayangkan, dan ini membuat mereka marah dan kecewa. Bahkan, mereka mulai berpikir bahwa lebih baik mereka pulang saja ke Mesir, karena setidaknya mereka tetap bisa hidup di sana. Ini menjadi sebuah ironi, bahwa pada dasarnya mereka sendiri yang memohon pembebasan dari Allah, tetapi ketika itu dikabulkan, mereka tidak senang dan merajuk di hadapan Allah.
Bukankah kejadian yang sama juga bisa menimpa kita? Dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan tekanan seringkali kita merasakan ‘dahaga’. Jiwa raga rasanya menjadi sangat letih dan lemah, dan memohon agar Tuhan Allah menyegarkan ‘dahaga’ kita. Namun, ketika ‘dahaga’ tersebut tidak terpuaskan seturut dengan kemauan kita, maka diri bisa menjadi kecewa, bahkan marah kepada Tuhan. Berpikir bahwa Tuhan tidak mendengarkan dan tidak peduli dengan keadaan yang dialami oleh umat-Nya. Banyak orang yang kemudian menjadi mundur dalam kehidupan pelayanan karena merasa ‘dahaga’ nya tidak dijawab oleh Tuhan.
Namun, melalui Keluaran 17:1-7, umat Tuhan diingatkan kembali akan kuasa Tuhan dalam hidup manusia. Dalam kehidupan manusia, segala bentuk permasalahan dan pencobaan akan datang silih berganti, dan manusia tidak memiliki kuasa untuk menolaknya. Hal-hal tersebut bisa datang secara bertubi-tubi dan membuat manusia menjadi merasakan ‘dahaga’. Namun, firman Tuhan berkata bahwa dalam ‘dahaga’ tersebut, kuasa Tuhan tetap ada dan mengubahkan hidup manusia walaupun cara Tuhan seringkali tidak seperti yang kita bayangkan. Permasalahannya, di dalam keterbatasan manusia, kita seringkali ‘memaksa’ Tuhan untuk bertindak seperti yang kita inginkan untuk memuaskan ‘dahaga’ tersebut. Di saat yang bersamaan, tidak menyadari bahwa mungkin ‘dahaga’ yang diizinkan Tuhan dialami oleh manusia mungkin bisa menolong manusia untuk semakin kuat, terlatih, dan di saat yang bersamaan juga semakin berserah akan kuasa Tuhan. Diajarkan untuk tidak mencari dan mengandalkan kuasa diri sendiri, tetapi justru dalam segala upaya yang dilakukan tetap juga membiarkan kuasa Tuhan bekerja.
Maka, pada akhirnya marilah kita belajar untuk melepaskan ‘dahaga’, dalam arti ini melihatnya bukan sebagai sesuatu yang menyakitkan saja, tetapi justru menjadi sarana pembelajaran buat manusia. Tuhan tidak buta dan tidak tuli, Ia akan senantiasa hadir dan menolong manusia yang datang kepada-Nya. Namun, kita juga diajar-Nya untuk tidak menyerah, terus berusaha, dan mencari apa yang bisa dipelajari dari segala tantangan yang ada.
Amin.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana
- S Prev
- s

Got something to say?